14 September 2013

Hukum Suami/Isteri Ambilkan Wuduk Ketika Sakit

Salam hari minggu... Selamat bercuti dan selamat beristirehat bersama keluarga... bagi yang kerja, selamat bekerja... Alhamdulillah... hari ni aku bercuti... dan aku ingin jawab persoalan yang ditinggalkan dalam kolum comment berkaitan dengan entry "Cara berwuduk atas balutan dan luka". Ada yang bertanya tentang wudukkan isteri atau suami ketika sakit... Insha Allah aku cuba untuk cari jawapan bagi persoalan itu.. Itu berkaitan soalan fiqh semasa kan.. Jadi aku usahakan mencari jawapan...


Aku mencari jawapan dan kesahan dalil yang dikemukakan... sebab tak nak orang ikut secara membuta tuli tanpa dalil dan ilmu... Sebelum tu, aku nyatakn dulu.. Batalkah wuduk bersentuhan antara suami dan isteri??? Jom baca huraian ini...

Bersentuhan dengan kulit lawan jenis khususnya dengan isteri atau suami apakah dapat membatalkan wudhu atau tidak, ada tiga pendapat ulama yang berbeza:

Pertama: Tidak membatalkan wudhu, ini adalah pendapat madzhab Al-Hanafiyah, mereka mengatakan bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara muthlaq, wanita itu isterinya atau pun bukan, dengan syahwat atau tidak dengan dengan syahwat.

As-Sarkhasi rahimahullah berkata: “Tidak wajib wudhu karena mencium atau menyentuh wanita, dengan syahwat atau tidak dengan syahwat”.

Dalil mereka (yang mengatakan tidak batal wuduk):

Dalil pertama: Pada dasarnya wudhunya tidak batal kecuali bila ada alil yang shahih dan terang.

Dalil kedua: ada beberapa hadits shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak kembali berwudhu setelah  menyentuh Aisyah. Aisyah RA berkata: “Dahulu aku tidur di depan Rasulullah SAW dan kedua kakiku ada di arah qiblatnya, dan bila sujud beliau menyentuhku”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Aisyah RA juga berkata: “Suatu malam aku kehilangan Rasulullah SAW dari tempat tidur maka kau mencarinya lalu tanganku memegang kedua telapak kakinya”.

Dalil ketiga: makna “لامستم النساء” adalah jima’, seperti halnya firman Allah SWT: “ولم يمسسني بشر

Kedua: Membatalkan wudhu

Pendapat Madzhab As-Syafi’iyyah: bahwa seorang laki-laki yang menyentuh kulit isterinya atau wanita lainnya yang bukan mahram dapat membatalkan wudhu, walau pun menyentuhnya tanpa diiring dengan syahwat. Dalil mereka adalah:

Imam  Syafi’I rahimahullah menafsirkan kata “لا مستم النساء” dalam surat Al-Maidah ayat 6 adalah bertemunya kulit dengan kulit walau pun tidak terjadi jima’. Alasannya adalah :

Alasan pertama: Bahwa Allah SWT menyebutkan kata “Janabah” di awal ayat ini kemudian mengikutinya dengan menyentuh wanita

Maka ini menunjukan bahwa menyentuh wanita sebagai hadats kecil seperti buang air besar, dan itu semua bukan “janabah”, maka maksud “لا مستم النساء di sini adalah menyentuh kulit walau pun tidak terjadi jima’.

Alasan kedua: dari sisi bahasa Arab kata “لا مس” maknanya “لمس” sebagaimana dalam qira’ah lainnya, dan semuanya bermakna bertemunya kulit dengan kulit, Allah berfirman “فلمسوه بأيديهم” (QS. Al-An’am)

Alasan ketiga: Abdullah bin Umar RA berkata: “Seorang laki-laki mencium isterinya dan جسها (menyentuhnya) dengan tangannya  termasuk “الملامسة” (menyentuh), dan barang siapa yang mencium ietrinya atau menyentuh dengan tangannya maka wajib baginya berwudhu”. (HR. Malik dalam Muwattha’ dengan sanad shahih).

Menyentuh wanita dapat membatalkan waudhu dengan syarat: 1. dengan lawan jenis 2. Bersentuhan kulit 3. Tidak ada penghalang (seperti pakaian/kain) 4. Kedua sudah baligh 5. Bukan mahram.

Sedangkan pendapat ketiga: pendapat madzhab Al-Malikiyah dan Madzhab Al-Hanabilah, mereka menghimpun dalil dari dua pendapat sebelumnya, mereka mengatakan bahwa menyentuh wanita yang dapat membatalkan wudhu adalah bertemunya kulit dengan kulit bila diiringi dengan syahwat, dan inilah yang dimaksud dari ayat  “لامستم النساء”, adapun jika hanya bersentuhan tanpa syahwat seperti dalam kisah Aisyah RA di dua hadits yang disebutkan di atas maka tidak membatalkan wuhdu.

Sebab perbezaan

Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid menyebutkan sebab perbezaan pendapat diantara mereka dalam hal ini adalah karena kata اللمس  dalam bahasa arab bermakna menyentuh dengan tangan dan makna lainnya adalah jima’ (senggama)

Jadi pendapat yang mengatakan اللمس  adalah menyentuh dengan tangan  maka sekedar bersentuhan saja sudah dapat membatalkan waudhu, seperti pendapat kedua.

Pendapat yang mengatakan اللمس  bermakna jima’ maka hanya sekedar bersentuhan tidak dapat membatalkan wudhu,seperti pendapat pertama.

Pendapat lainnya bila bersentuhannya tidak dengan rasa nikmat atau dengan syahwat maka tidak membatalkan wudhu, bila dengan syahwat maka membatalkan wudhu, seperti pendapat ketiga. (Sumber: eramuslim.com)

Kesimpulan:
Mazhab Hanafi: Tidak batal wuduk
Mazhab Syafie: Batal wuduk jika bersentuhan kulit ke kulit sama ada dengan syahwat atau tidak
Mazhab Hanbali dan Maliki: Batal wuduk jika dengan syahwat, dan jika tidak dengan syahwat tidak batal... Jadi di Malaysia, kita berpegang kepada pendapat Mazhab Syafie.. sebab tu timbul persoalan.. bolehkah suami/isteri ambilkan wuduk ketika sakit. Umpamanya baru lepas pembedahan yang menyebabkan dia tidak boleh bangun, atau lumpuh dan sebagainya... 

Berdasarkan pengalaman saya menjaga suami saya ketika sakit... Suami saya pernah diserang migrain yang teruk sehingga dia tak boleh bangun untuk wuduk. Ada beberapa cara saya gunakan... sebab dia boleh bergerak lagi tangan dan kaki... cuma tak boleh bangun berjalan. Caranya:
Sumber: Google image

1. Gunakan spray... penyembur air... spray di anggota wuduk yang wajib.
2. Jika dia mampu duduk, basuhkan guna air dan tadah air tu dalam besen.

Itu keadaan yg membolehkan pesakit bangun, Jika tidak mampu bangun, umpamanya lumpuh badan... begini penjelasannya:

(i) Jika sewaktu hendak bersolat, terdapat orang yang boleh membawa air kepadanya, maka hendaklah dia berwudhu'.
(ii) Jika semasa hendak bersolat, tiada orang yang membantunya, maka bolehlah dia bertayammum sekitar debu yang ada dikelilingnya. Sabda Nabi saw :-

إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
"Jika aku mengarahkan kamu melakukan sesuatu perkara, lakukan sebanyak mana yang kamu mampu" [Hadith Riwayat al-Bukhari #7277, Muslim #1337. (Sumber)

Kesimpulan:
1. Boleh wudukkan isteri dengan guna sarung tangan.. atau cara yang saya lakukan...iaitu guna spray atau cebuk air dari gayung. 
2. Jika tidak sarung tangan, atau dalam keadaan darurat, maka boleh saja bertaklid kepada mazhab lain. dan diingatkan bila kita berwuduk dengan cara mazhab yg kita ikuti, maka batalnya wuduk juga adalah dari mazhab yang sama.. 
Sumber: google images

Diingatkan, dalam berwuduk, hanya ambil anggota wuduk yang wajib ketika darurat iaitu muka, tangan, kepala dan kaki... dan wajib basuh sekali sahaja, yang kita buat 3 kali sebab sunat. 4 kali dah makhruh. Ustaz aku kata, orang Islam di Malaysia adalah paling membazir dalam berwuduk... Bila dalam darurat dah tak reti nak berwuduk.. Sebab tu juga ustaz selalu pesan, simpan air mineral sebotol je dalam kereta, kalau-klau time darurat boleh je berwuduk.. tak perlu nak cari alasan tak solat dan sebagainya. 

Sebenarnya, dalam kehidupan seharian kita, tak semua kita ikut mazhab Syafie. Contoh bayar zakat fitrah, jika ikut mazhab Syafie wajib bayar dengan makanan asasi... tapi kita ikut mazhab Maliki yang membolehkan membayar zakat guna wang. Sama juga dengan konsep jual beli secara tempahan, menurut Mazhab Syafie, jual beli mesti ada akad dan barang ada waktu jual beli... Tapi jika kita tgk jual beli online dan secara tempahan, xde brang waktu belian atau pembayaran kan... maksudnya kita taklid pada mazhab yang lain.. 

Perbezaan pendapat Imam-imam mazhab adalah rahmat bagi seluruh alam dan umat Islam.. Islam agama yang mudah.. walaupun nampak rigid, tapi sebenarnya Islam sangat toleransi dalam melaksanakan ibadah cuma kita dilarang sama sekali mempermudah-mudhakan dan merendahkan hukum Islam. 

Moga penjelasan ini jelas dan jika ada kemusykilan.. saya kongsikan tatacara berwuduk, bertayamum dan solat bagi orang sakit. Boleh download dari SINI. Moga bermanfaat...dan suadara yg bertanya puas hati dengan penjelasan ini...

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Kata-katamu, inspirasi blog ku...
Syukran Jazilan, atas bicara indah anda...
Terima kasih, lain kali komen lagi ea... ^_^