08 Mac 2017

KISAH DISEBALIK LAGENDA IKAN SISA NABI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang)

Ikan sisa Nabi, ada yang panggil ikan Lidah... ada juga panggil ikan sebelah... rupanya yang unik dan badannya memang hanya ada sebelah sahaja... Ikan ini terkenal dengan mitos dan lagenda atau sejarah yang dikaitkan dengan Nabi Musa a.s. Ada yang kata Nabi Sulaiman a.s.

Dan sebenarnya, ialah kisah sebenar berkaitan ikan ini ialah Nabi Musa dan Nabi Khidir... 

Jom ikuti kisahnya berdasarkan riwayat para ulama hadis yang sahih.

sumber: google images


Salah satu kisah yang dimuat dalam Al-Qur`an dan dikuatkan oleh hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah kisah Nabi Musa Alaihissalam bersama Khidir.

Hadits tersebut dimuat dalam Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Sunan At-Tirmidzi. Berikut adalah teks lengkap hadits tersebut.

Amru bin Muhammad An-Naqid, Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhali, Ubaidillah bin Sa’id, dan Muhammad bin Abu Umar Al-Makki telah memberitahuan kepada kami, semua riwayat mereka berasal dari Ibnu Uyainah dengan lafazh dari Ibnu Abi Umar.

Sufyan bin Uyainah telah memberitahukan kepada kami, Amru bin Dinar telah memberitahukan kepada kami dari Sa’id bin Jubair, ia berkata,

‘Aku pernah berkata kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bahwa Nauf Al-Bikali beranggapan bahawa Musa Alaihissalam yang berada di tengah kaum Bani Israil bukanlah Musa yang menyertai Nabi Khidhir.

Ibnu Abbas berkata, “Musuh Allah adalah pembohong.”

Aku (Sa’id) pernah mendengar Ubay bin Kaab Radhiyallahu Anhu berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Musa Alaihissalam pernah berdiri berpidato di tengah-tengah Bani Israil. Lalu dia (Musa) ditanya,

“Siapakah manusia yang paling berilmu?”

Musa menjawab, “Akulah orang yang paling berilmu.”

Allah lantas menegurnya kerana dia tidak menyandarkan ilmu kepada-Nya. Allah lalu mewahyukan kepadanya,

“Salah seorang hamba-Ku yang menetap di tempat pertemuan dua lautan adalah lebih berilmu daripada kamu.”

Selanjutnya Musa bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku dapat bertemu dengannya?”

Dikatakan kepadanya, “Bawalah seekor ikan dalam sebuah keranjang. Di mana saja kamu kehilangan ikan tersebut, maka di situlah dia berada.”

Kemudian Musa pun berangkat bersama pembantunya bernama Yusya` bin Nun.

Musa Alaihissalam membawa ikan tersebut dalam sebuah keranjang. Dia dan pembantunya berangkat dengan berjalan kaki.

Ketika keduanya sampai di sebuah batu karang besar, maka tidurlah Musa Alaihissalam dan pembantunya.

Sementara ikan yang berada dalam keranjang bergerak dan keluar dari keranjang lalu jatuh ke laut.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melanjutkan,

“Kemudian Allah menahan arus air yang dilalui ikan tersebut, sehingga menjadi seperti sebuah lengkungan. Ikan itu pun melompat mengambil jalannya ke laut.

Musa Alaihissalam dan pembantunya terheran-heran melihat pemandangan tersebut.

Mereka meneruskan sisa perjalanan pada siang dan malam hari sedangkan pembantu Musa lupa untuk memberitahukannya.

Keesokan harinya Musa Alaihissalam berkata kepada pembantunya,

“Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih kerana perjalanan kita ini.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Musa Alaihissalam tidak akan merasa letih sebelum dia sampai di tempat yang telah diperintahkan.”

Pembantu Musa berkata,

“Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali syaian, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.”

Selanjutnya Musa bertutur, “Itulah tempat yang kita cari.”

Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melanjutkan sabdanya,

“Kemudian keduanya menelusuri jejak mereka semula. Hingga ketika mereka tiba di batu karang tadi, Musa tiba-tiba melihat seorang lelaki yang berselimut dengan sebuah pakaian.

Lalu Musa Alaihissalam mengucapkan salam kepadanya.

Khidhir bertanya kepadanya, “Bagaimana ada salam di negerimu?”

Dia (Musa Alaihisalam) berkata, “Aku adalah Musa.”

Khidhir bertanya, “Musa Bani Israil?”

Dia menjawab, “Ya.”

Khidhir berkata, “Sesungguhnya kamu memiliki ilmu dari ilmu-ilmu Allah yang telah diajarkan-Nya kepada kamu yang tidak aku ketahui.

Sebaliknya aku juga memiliki ilmu dari ilmu-ilmu Allah yang telah diajarkan-Nya kepadaku yang tidak kamu ketahui.”

Musa Alaihissalam berkata kepada Khidhir,

“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”

Khidhir menjawab,

“Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku.

Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Musa Alaihissalam berkata,

“Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.”

Khidhir berkata kepadanya,

“Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu.”

Musa menjawab, “Baiklah.”

Khidhir dan Musa lalu berangkat dengan berjalan kaki di tepi pantai dan lewatlah sebuah perahu di hadapan mereka berdua.

Mereka bercakap-cakap dengan para penumpangnya agar mau mengangkut mereka. Karena sudah kenal dengan Khidhir, mereka lalu membawa keduanya tanpa bayaran.

Khidhir beranjak ke salah satu papan perahu lalu dicabutnya.

Musa berkata kepada Khidhir,

“Mereka telah membawa kita dengan cuma-cuma tetapi mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.”

Khidhir berkata, “Bukankah sudah kukatakan, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?”

Musa Alaihissalam berkata,

“Janganlah engkau menghukum aku kerana kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.”

Selanjutnya mereka meninggalkan perahu tersebut. Saat mereka sedang berjalan di tepi pantai, ternyata ada seorang anak remaja bermain dengan beberapa temannya.

Khidhir memegang kepala anak itu lalu memenggalnya sehingga terbunuhlah ia. Musa berkata,

“Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”

Khidhir mengatakan, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku.”

Perbuatan ini lebih kejam lagi daripada yang pertama. Selanjutnya Musa berkata,

“Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup bersabar menerima alasan dariku.”

Maka keduanya berjalan; hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri. Mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka.

Kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh di negeri itu, lalu Khidir menegakkannya.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Dinding itu miring, Khidhir mengisyaratkan dengan tangannya seperti ini dan menegakkan dinding tersebut.”

Musa Alaihissalam berkata kepada Khidhir,

“Orang-orang yang kita datangi tidak mau menerima kita sebagai tamu dan tidak mau menjamu kita. Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.”

Khidhir berkata,

“Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Semoga Allah merahmati Musa. Aku akan senang sekali kalau saja Musa bisa bersabar, sehingga pengalaman mereka berdua dapat diceritakan kepada kita lebih panjang.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tindakan Musa yang pertama memang karena lupa.”

Ubay bin Ka’ab mengatakan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Tak lama kemudian ada seekor burung yang terbang lalu hinggap pada tepi perahu itu dan mematuk air laut. Khidhir lalu berkata kepadanya,

“Sesungguhnya ilmuku dan ilmumu jika dibandingkan dengan ilmu Allah adalah seperti patukan seekor burung pipit tersebut pada laut itu.”

Demikianlah kisah Nabi Musa dan Khidir Alaihissalam. Semoga kita dapat memetik hikmah di balik kisah ini.
Sumber: http://bersamadakwah.net/


Banyak sangat siri cerita... tapi cerita yang ada dalil itu lebih baik.. dari sumber hadis.. Jangan kita jadi penyampai kisah yang tak betul.. 

Jadi, berdasarkan kisah itulah ikan itu dinamakan ikan sebelah atau ikan sisa nabi sebab Nabi Musa a.s dah makan sebelah, tapi dengan izin Allah ikan itu kembali ke laut dengan cara yang pelik... dan sebab tu tinggal sebelah sahaja... Itu antara yang diriwayatkan.. 

MF masih tak puas hati juga.. Insha Allah akan cuba dapatkan rujukan yang lebih pasal kisah ikan ni satu hari nanti.. 

Apa-apa pun, depa kata ikan ni sedap.. MF tak pasti pernah makan ke tak.. rasa-rasa bapa MF pernah beli kat pasar dulu... Tapi ikan ni memang susah nak jumpa sebenarnya. 

Namun, sebenarnya tiada yang mustahil bagi Allah.. Moga kisah begini dapat tingkatkan keimanan kita kepada Allah.. insha Allah. 

2 ulasan:

  1. Ikan lidah...tipis dan licin...goreng tepung sedap Cikgu MF..

    BalasPadam
  2. famous dgn nama 'ikan sebelah'. sy pun dah lupa kisah tntg ikan ni

    BalasPadam

Kata-katamu, inspirasi blog ku...
Syukran Jazilan, atas bicara indah anda...
Terima kasih, lain kali komen lagi ea... ^_^