01 Mac 2017

HAK JALAN!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang)

Rasulullah berbicara tentang jalan:

1. Rasulullah melarang duduk-duduk di jalan.
إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّهُ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ
Maksdunya: “jauhilah (waspadalah) oleh kalian duduk-duduk di jalan” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, kita tidak dapat meninggalkan duduk-duduk kita, sebab kita semua terbiasa bercakap-cakap disitu.” Rasulullah -Shallalahu ‘alaihi wa sallam- bersabda; “Jikalau kalian enggan, melainkan tetap ingin duduk-duduk disitu, maka berikanlah jalan itu haknya.” Mereka bertanya: “Apakah haknya jalan itu, ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Yaitu menundukkan pandangan, menghilangkan gangguan di jalan, menjawab salam, memerintahkan kebaikan dan melarang dari kemungkaran. (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Pahala syurga bagi orang yang memudahkan jalan meski dengan menghilangkan duri darinya.
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ ، فَغَفَرَ لَهُ
“Ketika ada seorang laki-laki sedang berjalan ia menemukan dahan pohon berduri di tengah jalan, lantas ia menyingkirkannya, maka Allah berterimakasih kepadanya dan mengampuninya (HR. Bukhari)

« لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِى الْجَنَّةِ فِى شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِى النَّاسَ »
“Sungguh aku telah melihat laki-laki di Syurga mundar-mandir kerana sebuah pohon yang melintang di jalan yang mengganggu manusia.” (HR. Muslim).

JIKA DEMIKIAN MAKA BAGAIMANA DOSANYA ORANG YANG MENYULITKAN JALANNYA KAUM MUSLIMIN?

3. Tiada pahala jihad bagi orang yang memutus jalan.

Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu’anhuma, dari bapaknya, beliau berkata:
نَزَلْنَا عَلَى حِصْنِ سِنَانٍ بِأَرْضِ الرُّومِ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ، فَضَيَّقَ النَّاسُ الْمَنَازِلَ، وَقَطَعُوا الطَّرِيقَ، فَقَالَ مُعَاذٌ: أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّا غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَةَ كَذَا وَكَذَا، فَضَيَّقَ النَّاسُ الطَّرِيقَ، فَبَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنَادِيًا فَنَادَى: مَنْ ضَيَّقَ مَنْزِلًا أَوْ قَطَعَ طَرِيقًا فَلَا جِهَادَ لَهُ
“Kami pernah menaklukan benteng Sinan di negeri Romawi bersama Abdullah bin Abdul Malik, maka manusia ketika itu menyempitkan rumah-rumah dan memutus jalan, maka Mu’adz berkata: Wahai manusia, sungguh kami pernah berperang bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam peperangan ini dan itu, lalu manusia menyempitkan jalan, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengutus seseorang untuk menyerukan: Barangsiapa yang menyempitkan sebuah rumah (diantaranya membuat tidak nyaman penghuninya) atau memutus sebuah jalan maka tidak ada jihad baginya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan al-Albani dalam Shahih sunan Abi Dawud).


4. Laknat Allah atas orang yang membuang kotorannya di JALAN
اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ
“Jauhilah dua orang yang terlaknat.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah kedua orang yang terlaknat itu?” Beliau menjawab, “Orang yang buang hajat di jalan manusia atau di tempat berteduhnya mereka.” (HR. Muslim ).



PENGAJARAN HADIS:
  1. Jangan duduk-duduk/ melepak di tepi jalan, sehingga mengganggu orang lain.
  2. Jika nak dok tepi jalan juga, Berikan hak jalan iaitu, JAGA PANDANGAN MATA, JANGAN HALANG PERJALANAN ORANG LAIN, JAWAB SALAM, NAMPAK BENDA BAIK, SURUHLAH TAPI JIKA NAMPAK BENDA TAK BAIK, TEGURLAH, CEGAHLAH.
  3. Banyak pahala orang yang memudahkan jalan orang lain.. seperti membuang duri/ranting di jalan.
  4. Haram menutup dan memutus jalan bahkan dalam jihad sekalipun, contohnya membuat demonstrasi jalanan dan program-program yang menyusahkan orang lain di jalanan.
  5. ALLAH LAKNAT orang yang buat kotor di jalan. Jadi, hati-hati bagi sesiapa yang suka buang sampah melalui kenderaan tu ye. 
Hebat Islam ni.. sampaikan macam tu nak jaga... jalan pun ada haknya... jadi tunaikan hak jalan.. tapi zaman sekarang orang tak kisah pun kan... sebar-sebarkanlah hadis ni.. sepatutnya kena buat banner hadis ni.. buh kat signboard jalan kan... biar semua orang tahu, faham... Mungkin selama ni orang tak tahu...buat tak kisah... tapi dalam Islam, Nabi s.a.w sebut pasal ni.. jadi, kena la ikut... 

16 Februari 2017

7 SYARAT DOA MUDAH DIMAKBULKAN ALLAH!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang)

Isu valet doa buatkan MF terus nak kongsi ilmu sikit tentang doa... MF ada juga terbaca ayat copywriting kat page tu... Serius kalau baca, memang boleh terpedaya dengan tawaran admin page tu... 

Tapi sebenarnya, dalam Islam ni simple... dan kita jangan susahkan... yang pertama sekali kena yakin bahawa Allah ada di mana sahaja... 

Kita boleh sahaja bayar dengan duit dan minta orang doakan di hadapan Ka'abah tapi sebelum tu teliti dulu 7 syarat ini untuk pastikan doa kita mudah makbul.

Antara syaratnya:

#1 Makan yang Halal, Jauhi yang Haram

Rasulullah s.a.w bersabda, “Hai Sa’ad (bin Abu Waqqash), makanlah makanan yang baik-baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya dikabulkan.”

Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambutnya acak-acakan dan berdebu lalu menengadahkan tangannya ke langit untuk berdoa, “Ya Rabi, ya Rabi.’ Padahal, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan keluarganya diberi makan dari sumber yang haram. Bagaimana doanya akan dikabulkan?” [HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad]

Semakin banyak masuk makanan haram — termasuk dari hasil riba (bunga)– semakin kecil doa kita diterima.

Rasulullah berkata, “Wahai Sa’ad, perbaikilah (murnikanlah) makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang terkabul do’anya. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya. Sesungguhnya seorang hamba melontarkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama empat puluh hari. Siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih layak membakarnya.” (HR. Ath-Thabrani)

Rasulullah pernah menjelaskan dosa-dosa riba. Dan yang paling ringan adalah seperti bersetubuh dengan ibu sendiri.

“Riba itu memiliki tujuh puluh pintu dan yang paling ringan adalah seperti seseorang yang bersetubuh dengan ibunya sendiri.” (Riwayat Ibnu Majah). [ Riba dan Makanan Haram Menutup Semua Pintu Doamu!]

Jadi, walaupun berdoa depan Ka'abah tapi dari sumber dan rezeki yang haram... tiada gunanya.

#2 Berprasangka Baik Pada Allah

Berdoa itu meminta segala sesuatu di hadapan Allah yang Maha Agung. Maka jangan pernah sesekali buruk sangka terhadap Allah S.W.T. Bersangka baiklah apabila berdoa kepadaNya, jangan ada keraguan terhadapNya.

Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku akan mengikuti persangkaan hambaKu kepadaKu. dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdo’a kepadaKu.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Yakin Allah akan makbulkan doa kita tepat pada masanya... 

#3 Beradab Ketika Berdoa dengan Merendahkan Suara

Menghadap Allah dengan penuh harapan, perasaan rendah hati dan khusyuk. Mulakanlah memuji Allah atau selawat kepada Rasulullah s.a.w.

Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang mewakili-Nya bagi barangsiapa yang berdo’a dengan berkata: “Yaa arhamarraahimiin. Maka siapa saja yang menyebutnya 3 kali, maka menjawablah malaikat itu: Sesungguhnya Allah arhamarraahimiin telah (berkenan) mengabulkan permohonanmu. Maka mintalah kepadaNya.” [HR. Hakim]

Telah diterima dari Abu Musa Asy-ari bahwa ketika orang-orang mendoa dengan suara keras beliau bersabda; “Hai manusia! berdoalah dengan suara perlahan, kerana kamu tidaklah menyeru orang yang tuli ataupun berada di tempat yang jauh. yang kamu seru itu ialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan tempat kamu memohon itu lebih dekat lagi kepada salah seorangmu dari leher kendaraannya! Hai Abdullah bin Qeis! Maukah kamu kutunjuki sebuah kalimat yang merupakan salah satu perbendaharaan surga? Yaitu: ‘Laa haula walaa Quwwata illaabillaah’.”

Macam kita la kan.. nak mohon cuti dari bos.. pastu pergi tengking-tengking bos, agak-agak dapat cuti??? Begitulah juga... nak mohon sesuatu dari Allah, biarlah penuh adabnya.


Sumber: google images

#4 Doa Tidak Keluar Dari yang Disyariatkan

Sesungguhnya pada doa yang keluar dari yang disyariatkan itu ada pelanggaran atau padanya ada sesuatu yang lebih besar dari itu. Berdoa kepada selain Allah maka keberadaan pada doa itu mengandung kesyirikan seperti meminta pertolongan kepada selain Allah.

#5 Ikhlas
Kelima, seorang yang berdoa harus mengikhlaskan (ditujukan) hanya kepada Allah di dalam do’anya, mengikhlaskan niat kerana Allah, mengikhlaskan aqidah (keyakinan) kepada Allah maka keberadaan orang yang berdoa harus mengikhlaskan do’anya hanya kepada Allah.

Misalnya; “Doa seorang Muslim untuk saudaranya (sesama muslim) dari tempat yang jauh (tanpa diketahuinya) akan dikabulkan.” [HR. Muslim]

#6 Doa Para Pemimpin Yang Adil, Anak Yatim dan Orang Teraniaya

Di antara doa yang tidak akan ditolak Allah adalah; “Orang yang berpuasa, pemimpin yang adil, dan orang yang teraniaya.” [HR. Tirmidzi]

#7 Tahu Kunci Waktu dan Tempat Dikabulkannya Doa

Imam Muslim meriwayatkan dari dari Jabir ia berkata; Saya mendengar Nabi s.a.w bersabda: “Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu ia memohon kebaikan kepada Allah ‘azza wajalla baik kebaikan dunia maupun akhirat, kecuali Allah memperkenankannya. Demikian itu terjadi pada setiap malam.”

Di antara tempat-tempat ustajab untuk berdoa, adalah: Di Multazam. Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah bersabda:

“Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tidak ada satu pun doa seorang hamba di Multazam kecuali akan dikabulkan.” (HR. Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad Jilid V, hal. 347).

Rasulullah bersabda: “Tempat antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.” (HR. Muslim).

Itulah 7 syarat makbulnya doa... nampaknya dalam valet doa diutamakan syarat ketujuh... tapi yang 6 syarat sebelum tu macam mana... 

Sebenarnya, doa kita dengan Allah direct terus... tiada perantara bahkan tiada hijab... cuma makbul dengan tak cuba kita teliti baliklah syarat-syarat yang keenam tadi tu... Yang penting doa dengan bersungguh dan penuh rendah diri... 

Doa ini, Allah akan makbulkan tepat pada waktunya... 
Allah akan makbulkan doa kita ikut apa yang kita perlu, bukan apa yang kita mahu. 

09 Januari 2017

Cara Pelupusan al-Qur'an Rosak Akibat Banjir

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang)


Banjir dah mula reda...di Kelantan dan Terengganu... Tahun ni agak teruk juga, sebab nampaknya kebanyakkan tempat ditelenggami air.

Kebanyakan surau dan masjid juga tak terkecuali kena banjir... Jadi, sudah pasti buku-buku agama dan al-Qur'an juga terkena banjir... 

Kertas bila dah kena air... sudah pasti rosak... tambah lagi dengan lumpur yang tebal... memang susah nak dikembalikan seperti asal.. Jadi, kaedah selamat lupuskan saja... Tapi al-Qur'an bukanlah kitab biasa... bukan buku... tapi kitab yang mengandungi kalam Allah secara tulisan... jadi, wajib hormat dengan penuh beradab... 


Sumber: google images

Para ulama’ telah khilaf bagaimana cara melupuskannya kepada dua pendapat.

Pertama : Mazhab Hanafi dan Hanbali berpendapat hendaklah digali tanah dan ditanam di  dalamnya.

Seperti ulama’ Hanafi antaranya al-Haskafi berkata : “Mushaf apabila berada pada keadaan yang mana kita tidak mampu membacanya lagi hendaklah ditanam sebagaimana keadaan orang Islam yang mati”. Lihat al-Durr al-Mukhtar 1/191. Sahib al-Hasyiah memberi komentar dengan berkata : “Diletakkan perca kain yang bersih yang diletakkan di dalamnya (al-Qur’an yang rosak) kemudian ditanam di tempat yang tidak dihina dan dipijak.”

Al-Buhuti, seorang ulama’ dalam mazhab Hanbali berkata : “Jika sekiranya mushaf telah basah atau lupus, hendaklah ditanamnya secara nas. Imam Ahmad menyebut bahawa Abu al-Jawza’ telah basah mushafnya lantas digali lubang pada masjidnya dan ditanamnya.” Lihat Kasyaf al-Qina’ 1/137.

Syeikh Muhammad bin Ibrahim Al al-Syeikh (mantan Mufti Besar Arab Saudi) berpendapat, cara yang paling sahih ketika luput sebahagian kertas mushaf ialah dengan menanamnya di masjid. Jika tidak boleh maka ditanamnya di tempat yang bersih lagi suci dan harus juga membakarnya. Lihat al-Fatawa 13/84

Kedua : Mazhab Maliki dan Syafi’i berpendapat, hendaklah dibakar.

Hujah bagi pendapat yang kedua ini adalah berdasarkan tindakan Saidina Uthman yang memerintahkan untuk membakar mushaf yang lain yang berbeza dengan mushaf yang ditulis, dan perbuatan tersebut telah disaksikan oleh ramai Sahabat. Kisah ini telah diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Sahihnya no. 4988. Mus’ab bin Sa’d berkata : “Aku mendapati ramai orang yang mana menyaksikan peristiwa arahan Saidina Uthman supaya mushaf-mushaf yang lain dibakar. Perbuatan tersebut menjadi kehairanan bagi mereka tetapi tidak seorang pun dari kalangan mereka mengingkarinya.” Diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Abi Daud dalam bukunya Kitab al-Masahif halaman 41.

Ibn Battal berkata : “Perintah Saidina Uthman supaya membakar semua mashaf ketika dihimpunkan al-Quran menandakan keharusan membakar kitab-kitab yang terpada padanya Asma’ullah (nama-nama Allah). Yang demikian, sebagai kemuliaan baginya dan pemeliharaan daripada dipijak dengan kaki serta dicampakkannya pada mana-mana tempat.” Lihat Syarah Sahih al-Bukhari 10/226.

Imam al-Suyuti berkata : “Apabila perlu kepada melupuskan sebagian kertas mushaf dengan sebab basah atau rosak, maka tidak harus diletakkannya pada mana-mana tempat sekalipun tinggi kerana boleh jadi akan jatuh dan dipijak. Begitu juga tidak harus mengoyaknya kerana memisahkan huruf-huruf dan kalam tersebut. Justeru, kalau dibakarnya dengan api, maka tidak mengapa. Ini kerana perbuatan Saidina Uthman yang membakar semua mushaf dan tiada seorangpun yang mengingkarinya.” Lihat al-Itqan fi Ulum al-Qur’an 2/1187
Tarjih

Selepas meneliti dua pandangan di atas samada menanamnya atau membakarnya, adalah diharuskan kedua-duanya kerana ia bermatlamat untuk memuliakan al-Qur’an atau mushaf.

Walaupun begitu, menurut Mufti Wilayan Persekutuan... beliau lebih cenderung kepada hujahan mazhab Syafi’i dan Maliki yang memilih dengan cara membakar. Perbuatan sahabat seperti Saidina Uthman yang merupakan ijtihad daripadanya dan juga selepas itu tidak diingkari oleh mana-mana sahabat menjadi hujah yang kuat kepada perbuatan tersebut untuk mengharuskan pembakarannya. Ini kerana ianya memang rosak disebabkan banjir dan alangkah baiknya selepas itu, debu yang berbaki, ditanam kerana mengambil pendapat yang pertama dari mazhab Hanafi dan juga Hanbali.

Alhamdulillah, mutakhir ini telah wujud alat yang moden dalam menghancurkan kertas sehingga menjadi seperti debu atau serpihan halus dan tidak kekal lagi walaupun kalimah dan huruf secara zahir. Kemudian ianya dibakar pula dan kemudian ditanam, maka sudah tentu lebih selamat dalam memuliakan al-Qur’an daripada dihina atau dipijak.

Begitu juga terpakai dalam isu ini berkenaan dengan nama-nama Allah, kitab-kitab hadith atau kitab-kitab agama yang mengandungi nama Allah yang hendaklah kita muliakan di mana cara pelupusannya dibuat sebagaimana dilupuskan mushaf seperti di atas.

Semoga jawapan ini menyelesaikan isu dan kemelut berkenaan dengan pelupusan mushaf yang rosak atau yang tidak mungkin dapat dibaca lagi dengan sebab ditenggelami air dalam tempoh masa yang tertentu. Wallahua’lam.
Rujukan: Mufti Wilayah Persekutuan

Kaedah ini juga MF guna untuk lupuskan kertas-kertas soalan dan buku Pendidikan Islam yang dah tak gunakan lagi... Biasalah, jadi ustazah ni banyak guna bahan yang mengandungi ayat al-Qur'an dan hadis... Walaupun ada kata tak mengapa kalau ayat tu sedikit sahaja... Tapi MF rasa bersalah... tetap akan simpan dan kumpul... kemudian satu masa bakar dalam bekas dan abunya dibuang dalam air yang mengalir...seperti sungai atau laut. 

14 Disember 2016

BENARKAH HUJAH 9/10 REZEKI ITU DARI BERNIAGA HADIS SAHIH???

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang)

Bila berhujah dengan peniaga zaman ini, pasti akan sebut "9/10 Rezeki adalah dari berniaga"... Yang berniaga atau yang tak pernah berniaga pasti pernah dengar ayat tu kan... Tapi, sejauh mana hadis tu??? Sebelum nak amalkan sesuatu hadis, kena pastikan status sesuatu hadis tu... sahih ke, dhaif ataupun maudu'(palsu)... Kalau sahih, memang itu hujah yang kuat kita amalkan, tapi kalau dhaif, boleh amal tapi tak boleh dijadikan hujah... jika maudu' wajib tinggalkan dan tak boleh langsung digunakan untuk beramal dan berhujah... 

Jadi, MF nak kongsi sikit pasal status hadis ni... Mungkin ada yang tahu, tapi mungkin juga tak tahu... 

1. Hadis tersebut datang dengan lafaz:

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ثنا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدَ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ الرحمن قال بَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِّزْقِ فِي التِّجَارَةِ. وقال نُعَيْمٌ: كسب الْعُشْرِ الْبَاقِي فِي السَّائِمَةِ يَعْنِي الْغَنَمَ

Maksudnya: Kata Nuaim bin Abd Rahman: telah sampai kepadaku bahawa Nabi saw bersabda: 9/10 daripada rezeki (datangnya) dari perniagaan. Kata Nuaim: 1/10 yang berbaki (dari rezeki) datang dari pengembalaan yakni gembala kambing.

Lafaz ini diriwayatkan oleh Musaddad dalam musnadnya (Lihat: Ibn Hajar, al-Matalib al-'aliah, jld. 7, hal. 352)

Abu Ubaid juga menyebut hadis ini dalam kitabnya Gharib al-hadith (jld. 1, hal. 299)

Komentar terhadap hadis:
  • Al-Busiri menyatakan bahawa sanad hadis ini lemah disebabkan Nuaim itu tidak dikenali. (Rujuk: Ithaf al-Khiarah, jld. 3, hal. 77)
  • Abu Hatim al-Razi menyatakan bahawa beliau meriwayatkan hadis dari Nabi secara mursal (terputus sanad), ini bermakna beliau adalah tabi'in dan bukannya sahabat. Ini bermakna sanadnya terputus. (Rujuk: Ibn Abi Hatim, al-Jarh wa al-Ta'dil, jld. 8, hal. 461)
  • Dakwaan Ibn Mandah bahawa beliau adalah sahabat tidak benar kerana al-Bukhari (rujuk: al-Tarikh al-Kabir, jld. 8, hal. 97) Ibn Hibban (rujuk: al-Thiqat, jld. 5, hal. 477) dan Abi Hatim al-Razi  (Rujuk: Ibn Abi Hatim, al-Jarh wa al-Ta'dil, jld. 8, hal. 461) menyatakan beliau adalah tabi'in.  Pandangan inilah yang disokong oleh Ibn Hajar. (rujuk: al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, jld. 6, Hal. 510)

Kesimpulan: Hadis ini daif kerana mursal (sanadnya terputus)

Hadis ini juga diriwayatkan dari jalur Yahya bin Jabir al-Taii riwayat Said bin Mansur dalam sunannya seperti yang disebut oleh al-Suyuti dalam kitabnya al-Jami' dan ia juga daif disebabkan mursal (sanadnya terputus). (Rujuk: al-Suyuti, al-Jami' al-Saghir, jld. 14, hal. 55)

2. Terdapat juga hadis lain dengan makna yang lebih kurang sama dengan hadis di atas:

- يا معشر قريش لا يغلبنكم الموالي على التجارة فإن الرزق عشرون بابا تسعة عشر منها للتاجر وباب واحد منها للصانع وما أملق تاجر صدوق إلا فاجر حلاف مهين

Maksudnya: Wahai sekalian Quraisy, jangan biarkan bangsa asing menguasai perniagaan, sesungguhnya rezeki itu mempunyai 20 pintu, 19 daripadanya adalah daripada perniagaan dan satu pintu (rezeki) lagi daripada pembuat (manufacturer). Sekali-kali peniaga yang bercakap benar tidak akan menjadi miskin kecuali jika dia jahat (penipu) selalu bersumpah dan hina.

Hadis ini riwayat Ibn al-Najjar (rujuk: kanz al-Ummal, jld. 4, hal. 60) dan al-Dailami (rujuk: al-Firdaus, jld. 5, hal. 287) daripada Ibn Abbas.

Komentar terhadap hadis:

al-Dailami meriwayatkan hadis ini secara ta'liq (tanpa menyebut sanadnya) manakala sanad Ibn Najjar pula terdapat perawi yang bernama Mindal bin Ali dan Imam Ahmad, Yahya ibn Ma'in dan Abu Zur'ah mengatakan bahawa dia lemah (daif). (Rujuk: al-Uqaili, al-Dhu'afa', jld. 4, hal. 266, al-zahabi, Mizan al-I'tidal, jld. 4, hal. 180)

Terdapat Ibn Juraij dalam sanad ini dan dia merupakan mudallis yang meriwayatkan secara al- 'an'anah (العنعنة) menyebut 'an sahaja tanpa menyatakan dia mendengar hadis ini secara jelas. Maka hadis ini daif. 

Hadis ini diriwayat juga dari jalur yang lain:

عمر بن حفص ، نا ابن جريج ، عن عطاء عن ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يا معشر قريش لا يغلبنكم الموالي على التجارة ، فإن البركة في التجارة فصاحبها لا يفتقر (1) ، إلا تاجر حلاف مهين

Riwayat Ibn al-A'rabi dalam mu'jamnya (jld. 3, hal. 232)

Hadis ini juga daif (lemah) disebabkan umar bin Hafs. al-Baihaqi mendaifkannya. (rujuk: al-Zahabi, Mizan al-I'tidal, jld. 1, hal. 566)

Terdapat Ibn Juraij dalam sanad ini dan dia merupakan mudallis yang meriwayatkan secara al- 'an'anah (العنعنة) menyebut 'an sahaja tanpa menyatakan dia mendengar hadis ini secara jelas. Maka hadis ini daif.

Hadis ini juga tidak menyebut tentang bilangan pintu rezeki seperti hadis sebelum ini. Ini bermakna hadis ini tidak boleh menguatkan hadis di atas.

Hadis ini diriwayatkan juga dari Ibn Mas'ud:

 ( الرزق عشرون بابا فتسعة عشر بابا للتاجر وباب للصانع بيده )

Maksudnya: Rezeki itu ada 20 pintu, 19 daripadanya untuk peniaga, dan satu untuk pembuat (manufacturer) dengan tangannya.

Hadis ini riwayat Ibn Abi al-Dunia dalam kitab Islah al-Mal (hal. 73)

Tetapi hadis ini daif jiddan (terlalu lemah) kerana dalam sanadnya terdapat Juwaibir bin Said dan dia dihukum matruk. (Rujuk: al-zahabi, al-kasyif, jld. 1, hal. 298)

Kesimpulan:
Tidak ada satu riwayat pun sahih atau hasan dalam bab ini. Manakala hadis-hadis ini juga tidak boleh dinaiktaraf menjadi hasan lighairih kerana sebahagiannya daif jiddan dan sebahagian lainnya pula tidak mempunyai lafaz bilangan pintu rezeki yang dinyatakan. Maka semua riwayat dalam bab ini daif. Wallahua'lam.

Ini ulasan dari Dr. Rozaimi Ramlee



Berikut pula adalah petikan dari penulis al-ahkam.net iaitu Ali Tantawi:

KOMENTAR AL-IRAQI TERHADAP HADITH '9/10'
Apa kata al-Iraqi? Beliau telah menyatakan bahawa hadith ini telah diriwayatkan oleh: Ibrahim al-Harbi dalam bukunya Gharib al-Hadith melalui jalan Nu'aim Bin Abd. Rahman dan kesemua periwayatnya thiqat (dipercayai). Seterusnya beliau menyatakan kata-kata dari tiga imam hadith iaitu: Abu Hatim, Ibnu Hibban dan Ibn Mandah menyatakan bahawa Nu'aim Bin Abd. Rahman bukanlah seorang sahabat tetapi seorang tabi'i (sempat bertemu sahabat dan tidak sempat bertemu Rasulullah s.a.w.), maka kata al-Iraqi: Hadith ini mursal.

Maksud al-Iraqi dengan kata-katanya: 'mursal' ialah hadith ini dinyatakan oleh Nu'aim Bin Abd. Rahman sebagai 'Nabi s.a.w. bersabda' sedangkan beliau tidak pernah bertemu dengan Rasulullah s.a.w. bahkan beliau merupakan seorang tabi'i. Hadith dalam kategori sebegini diistilahkan sebagai mursal dan ia adalah antara kategori hadith yang belum dipastikan sahih atau dhaif. Untuk lebih lanjut, sila rujuk mana-mana buku ilmu hadith dan cari perbincangan tentang kategori hadith yang diistilahkan sebagai 'mursal'.

KESIMPULAN DARIPADA KATA-KATA AL-IRAQI
Apa yang dapat kita fahami daripada ulasan al-Iraqi - bagi sahabat-sahabat yang memahami bahasa Arab, boleh baca ulasan beliau dalam jilid dan muka surat yang telah disebut di atas - ialah:
  • Hadith ini sumber asalnya ialah buku Gharib al-Hadith hasil susunan Ibrahim al-Harbi.
  • Di dalam hadith ini, didapati Nu'aim Bin Abd. Rahman telah menyebut bahawa ia berasal daripada Rasulullah s.a.w.
  • Namun dalam periwayatan hadith, hanya seorang sahabat (sempat bertemu Rasulullah s.a.w.) yang boleh menyatakan demikian.
  • Setelah dikaji oleh al-Iraqi, didapati Nu'aim bukan seorang sahabat, tetapi seorang tabi'i.
  • Ini menjadikan hadith tersebut terputus. Dalam hal ini, ia diistilahkan sebagai 'mursal'. Seluruh ulama hadith sepakat bahawa hadith 'mursal' bukanlah salah satu kategori 'hadith sahih' . Ia perlukan kepada banyak syarat dan keadaan untuk menaikkan kedudukannya ke tahap 'sahih'. Bukalah mana-mana buku Mustolah al-Hadith, pasti akan ada perbincangan panjang tentang kategori hadith yang diistilahkan sebagai 'mursal'. Kebanyakan pengkaji juga menyebutkan bahawa 'mursal' pada penggunaan ulama awal ialah lebih luas dan ia membawa maksud kedhaifan.

SUMBER LAIN
Namun begitu, hadith ini juga ditemui dalam sumber yang lain. Mari kita lihat bersama. Hadith ini ditemui antaranya di dalam :

a) Buku Sunan Sa'id Bin Mansur - Ia dinyatakan oleh Markaz Fatwa dari laman web islamweb.net (fatwa no.61297), namun saya tidak dapat menemui ia dalam buku tersebut untuk mengesahkan kedudukannya dan nombor serta kedudukannya yang lebih terperinci. Namun Markaz Fatwa menyatakan ia berasal dari riwayat Nu'aim Bin Abd. Rahman dan Yahya Bin Jabir al-Tooi.

b) Buku Islah al-Mal, Ibnu Abi al-Dunya (wfat 281H) (cetakan Muassasah al-Kutub al-Thaqafiyyah, tahun 1993) - ia meriwayatkan hadith ini yang bersumberkan Nu'aim Bin Abd. Rahman (hadith no.213) . Maka ia sama juga seperti yang disebutkan di atas tadi. Ia hanya pengulangan rantaian periwayatan yang sama.

c) Buku al-Jami' al-Shaghir, al-Suyuti (wafat 911H)- dalam buku ini, hadith tersebut disebutkan (bukan diriwayatkan) dan seterusnya kita dapati al-Suyuti membuat ulasan yang amat ringkas iaitu - daripada Nu'aim Bin Abd. Rahman dan Yahya Bin Jabir al-Too'i secara 'mursal'. Kita dapati al-Suyuti menambah seorang lagi tabi'i yang meriwayatkan hadith tersebut. Tetapi beliau masih menyatakan ianya 'mursal' dan ia kembali kepada perbincangan panjang tentang kedudukan hadith 'mursal' dalam ilmu kajian hadith atau mustolah al-hadith.

d) Buku Gharib al-Hadith karya Abu Ubaid al-Qaasim Bin Sallaam (wafat 224H) (cetakan Darul Kutub al-Ilmiyyah, tahun2003) - di dalam jilid pertama, muka surat 80, didapati Abu Ubaid telah menyebut hadith ini dan didapati jalannya juga melalui jalan periwayatan Nu'aim Bin Abd. Rahman.

KESIMPULAN PENTING
1- Hadith ini walaupun popular, ia tidak disebutkan atau diriwayatkan di dalam buku-buku hadith utama seperti: Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, buku-buku Sunan, Musnad-musnad dan lain-lain lagi. Ini merupakan di antara (salah satu) petunjuk tentang kedhaifan sesebuah hadith.

2- Di dalam semua buku utama hadith seperti di atas, terdapat bab-bab dan hadith-hadith tentang perniagaan. Sekiranya ia sahih dan penting - berdasarkan maksudnya - pasti ia akan berada di dalam buku-buku utama tersebut dan dijadikan dalil utama dalam menggalakkan perniagaan.

3- Tidak kita temui kenyataan dari mana-mana ahli hadith utama yang menyatakan kesahihan hadith ini. Apa yang ada hanyalah sebahagian ulama menyebutnya di dalam buku mereka dengan rantaian periwayat yang mana ia (rantaian periwayat itu) difahami - oleh pengkaji hadith - bahawa ia merupakan petunjuk kepada kedhaifannya. Ahli hadith moden juga didapati menilainya sebagai dhaif.

4- Untuk menyatakan bahawa perniagaan adalah baik dan Islam menggalakkannya, sudah memadai dengan ayat-ayat Al-Quran - contohnya ayat 275 surah Al-Baqarah - dan hadith-hadith yang penuh dengan panduan dalam perniagaan. Lagipun, hakikat bahawa Nabi s.a.w. pernah berniaga semasa mudanya dan para sahabat juga ramai yang menceburi bidang ini juga sudah cukup menggalakkan kita untuk melakukannya. Kita tidak perlukan lagi hadith yang dhaif atau tidak pasti sebagai dalil. Begitu juga kita boleh mengetengahkan fakta-fakta sahih tentang para Nabi selain Rasulullah s.a.w. yang juga berniaga dan bekerja sendiri. Islam kata sebaik-baik pekerjaan adalah kerja hasil tgn sendiri seperti riwayat Bukhari:
( ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده وإن نبي الله داود عليه السلام كان يأكل من عمل يده )
Maka dapat difahami secara umum semua pekerjaan hasil tangan sendiri (seperti tukang besi, ukiran, khat, bercucuk tanam) adalah baik di sisi Islam. Tak semestinya berniaga sahaja... 

5- Hendaklah kita berhati-hati dengan populariti sesuatu hadith atau kata-kata, kerana ia mungkin tidak sahih atau tidak tepat.

6- Bagi mereka yang tetap ingin menyebut hadith ini sekadar menggunakan maknanya, adalah dinasihatkan mengikuti saranan imam-imam hadith seperti al-Nawawi, Ibn Hajar dan lain-lain yang mana mereka menyarankan agar membezakan antara 'cara menyebut' sesuatu hadith yang sahih atau dhaif. Seeloknya hendaklah digunakan ayat-ayat seperti - "terdapat sebuah riwayat menyatakan bahawa...", "sebagaimana di dalam sebuah hadith dhaif...", agar masyarakat tidak terkeliru.

Jadi, jelaskan... hadis ni ni bukan hadis sahih... boleh kita nak amal tapi tak boleh dijadikan hujah... Jadi, boleh guna ayat al-Quran dan dalil yang lebih sahih... Tak salah nak berniaga, tapi nak berhujah dengan dalil yang daif untuk mengajak orang join perniagaan kita patut dielakkan. 

13 Oktober 2016

NABI S.A.W LARANG CERITAKAN MIMPI KEPADA ORANG LAIN!!!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang)

Selasa lepas ada tengok rancangan Tafsir Mimpi yang diacarakan oleh Nabil dan Panelnya Ustaz Badli Shah.. Ustaz Badli Shah memang best la, sebab kupasannya menarik.. Yang tertarik nak kongsi ialah pesanan Ustaz Badli Shah, iaitu kongsikan mimpi.. Pesanan beliau, jangan kongsi mimpi dengan orang lain melainkan orang yang mahir bab mimpi... 

Kenapa beliau pesan begitu??? Sebab ada dalil dan hikmahnya... Meh baca.. 



Apa Maksud Mimpi

Mimpi adalah sesuatu yang terlihat atau di alami manusia pada waktu tidur. Mimpi yang di alami seseorang kadang-kadang betul dan kebanyakannya tak betul. Mimpi bukannya hanya di alami manusia awam, akan tetapi para Nabi pun mengalami mimpi. Mimpi yang di alami seseorang ada yang sifatnya menyenangkan adakalanya menakutkan dan menyedihkan.  Misalnya mimpi berjumpa orang yang kita sayangi, mimpi berjumpa makhluk yang kita takuti dan sebagainya. Mimpi orang awam kebanyakan kerana campur tangan syaitan.Sed angkan mimpi para Nabi dan Rasul adalah merupakan mimpi petunjuk, pertanda atau wahyu dari Allah SWT.

Sebagaimana di jelaskan dalam Al-Qur’an, yang ertinya, “(iaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi takut dan tentu  kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS Al-Anfal : 43) 

Dalam ajaran agama Islam mimpi yang di alami diwaktu tidur, tidak dibenarkan menceritakannya kepada orang lain. Apakah mimpi yang benar atau mimpi yang tidak benar. Ini penjelasaan dua mimpi tersebut,

1. Mimpi Yang Baik Atau Benar.
Ketika seseorang mengalami mimpi yang benar, hendaklah ia memuji Allah dan memohon kepadanya agar merealisasikannya dan jangan menceritakan kepada orang lain kecuali kepada orang yang di cintainya dan mencintainya. Oleh sebab itu ketika, Nabi yusuf bermimpi melihat matahari, bulan, dan sebelas bintang bersujud kepadanya, ia menceritakannya kepada bapanya. Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (QS Yusuf : 5)

Dari Abu Qatadah r.a, mengatakan bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Mimpi yang benar berasal dari Allah, sedangkan mimpi yang merupakan bunga tidur berasal dari syaitan. Jika diantara kamu bermimpi sesuatu yang disukainya, hendaklah ia tidak menceritakannya kecuali kepada orang yang dicintainya. Tetapi jika ia bermimpi sesuati yang di bencinya, maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari keburukannya dan dari keburukan syaitan, dan supaya meludah tiga kali serta tidak menceritakannya kepada siapa pun. Sesungguhnya mimpi tersebut tidak akan membahayakan.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Berdasarkan firman Allah SWT. dan hadis Rasulullah tersebut, ketika seseorang mengalami mimpi yang benar, hendaknya ia memuji Allah dan memohon kepadanya agar merealisasikannya dan jangan menceritakannya kepada orang lain kecuali kepada orang yang ia cintai dan mencintainya. Menceritakan mimpi yang benar terhadap orang yang dicintai tujuannya supaya ia berbahagia dengan kebahagian tersebutu dan mendoakan agar mendapat kebaikan tersebut. 

Kita dilarang untuk menceritakan mimpi benar kepada orang yang tidak kita cintai atau menyukai kita. Supaya ia tidak mengganggu arah mimpi tersebut dengan pentakwilan yang berdasarkan hawa nafsu, atau berusaha menghilangkan nikmat Allah SWT kerana dengki kepadanya.

2. Mimpi Yang Tidak Benar.
Mimpi yang tidak benar atau buruk berasal dari syaitan. jika seseorang mengalami mimpi buruk dilarang juga menceritakannya kepada orang lain. Sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi s.a.w beliau bersabda, “Jika salah seorang daripada kamu melihat mimpi buruk maka hendaklah ia bangkit melaksanakan solat dan jangan ia ceritakan kepada orang lain,” (HR Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Usamah, ia berkata, “Aku pernah melihat sebuah mimpi yang membuat aku sakit hingga aku  mendengar Qatadah berkata, ‘Aku pernah melihat sebuah mimpi yang membuat aku sakit hingga aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,  "Mimpi baik berasal dari Allah. Jika salah seorang daripada kamu melihat apa yang kamu sukai maka janganlah ia ceritakan mimpi tersebut kecuali  kepada orang yang menyukainya saja dan jika ia melihat mimpi yang tidak ia sukai maka hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan mimpi tersebut dan dari kejahatan syaitan, kemudian meludah lah tiga kali dan jangan ia ceritakan kepada siapapun, sebab mimpi itu tidak akan mendatangkan kemudharatan,” (HR Bukhori dan Muslim).

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a,  “Bahawasanya Rasulullah SAW didatangi seorang Arab Badwi dan berkata, ‘Aku bermimpi bahawa kepalaku dipenggal lalu akui mengikuti kepalaku yang menggelinding.’ Kemudian Nabi saw. mencela Arab Badwi tersebut dan bersabda, ‘Jangan engkau ceritakan kisah syaitan yang mempermainkanmu ketika engkau tidur,” (HR Muslim). 

Berdasarkan hadits Rasulullah SAW di atas, ketika seseorang mengalami mimpi buruk, maka tidak dibolehkan juga menceritakannya kepada orang lain. Sebab ditakutkan orang lain akan mentakwilkan dengan caranya masing-masing sehingga menimbulkan kegelisahan dan rasa takut bagi orang yang mimpi buruk tersebut.

Akan tetapi Rasulullah menganjurkan bagi yang melihat mimpi yang buruk atau tidak ia sukai, hendaklah ia melaksanakan apa yang tercantum dalam sunnah untuk mengusir was-was dan menolak tipu daya syaitan. Iaitu: melaksanakan solat, memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan mimpi dan kejahatan syaitan, meludah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali dan mengubah posisi tidur dari posisi semula.
Sumber: http://www.bacaanmadani.com/

Kesimpulannya: 
Adab mendapat mimpi baik:
  • Jangan ceritakan mimpi kepada orang lain kecuali orang yang dicintai dan menyintai.
  • Bangun solat hajat
  • Doa moga direalisasikan apa yang dimimpikan tu.

Adab mendapat mimpi buruk:
  • Jangan ceritakan mimpi kepada orang lain kecuali orang yang dicintai dan menyintai.
  • Bangun dan ludah sebelah iri sebanyak 3 kali
  • Bangun solat
  • Doa mohon perlindungan
  • Ubah posisi tidur.


Jadi, bila dapat mimpi jangan terus nak kongsikan di Facebook… sebaliknya laksanakan adab-adab yang dianjurkan Nabi s.a.w dan kalau nak kongsikan pun kepada orang yang kita percayai sahaja…

06 September 2016

Durian Kahwin Dengan Cempedak Jadi Terap!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang)

Ternampak orang post gambar buah ni kat Facebook... Macam pelik bila caption.. Buah Durian dikahwinkan dengan Cempedak... Sekali bila baca komen... buah ini bukanlah buah durian kahwin dengan cempedak... Tapi dinamakan buah terap ikut slang Kedah, dan nama sinonimnya ialah buah tarap... dan ikut slang beberapa bahagian di negeri Sabah, buah Temponek, ada juga menamakan buah klueh.




Sedikit info berkaitan buah tarap:

Tarap merupakan sejenis tumbuhan berbuah yang terkenal di negeri Sabah, Malaysia khususnya di bahagian pantai barat Sabah seperti daerah Kota Kinabalu dan Papar. Tumbuhan ini boleh tumbuh dan hidup subur dengan begitu mudah di negeri Sabah, namun jarang ditemui ditempat lain walaupun di kawasan beriklim tropika. Tarap mempunyai bau yang agak kuat, namun mempunyai rasa yang cukup sedap, manis, lembut dan pemakan pasti merasa kenikmatan apabila merasanya untuk pertama kalinya. Isi buahnya mempunyai rasa yang seakan-akan Mangga yang penuh berjus. Namun bentuk buah Tarap lebih seakan-akan buah Cempedak dan Nangka, orang ramai selalu keliru akan perkara ini.

Buah Tarap berbentuk bulat sehingga ke bujur sama seperti bentuk buah cempedak atau nangka. Panjangnya 15-20 cm dan 13 cm lebar, dan beratnya boleh mencecah sehingga 1 kg atau lebih berat. Kulit buah Tarap agak tebal dilitupi dengan duri yang tumpul mendatar dan lembut. Namun apabila matang struktur kulit buah lebih keras dan rapuh. Buah tidak akan jatuh ke bawah seperti buah lain apabila ia telah masak sepenuhnya. Namun jika buah ini telah benar-benar masak ranum dan mula menampakkan kesan busuknya, buah tersebut akan jatuh juga.

Bahagian dalam buah tarap lazimnya seakan-akan isi buah cempedak atau nangka, namun lebih kecil, melekit, berjus dan isinya lebih kepada warna putih susu. Namun pusatnya lebih besar, terdapat sedikit selaput dibahagian yang tidak boleh dimakan dalam bahagian dalamnya. Isi aril lebih warna putih dan saiz berbentuk anggur, setiap satunya mempunyai biji bersaiz 15 × 8 mm. Sejurusnya sahaja dibuka, isa tarap atau marang harus segera dimakan dalam tempoh beberapa jam sahaja, keraa buah ini mudah tersejat akan jusnya, dan rasanya akan cepat hilang dan buah ini cepat terdedah dengan kesan oksidatif. Biji tarap juga sesuai untuk dikukus atau dipanggang untuk dimakan. -Wikipedia-

Walaupun macam tu kan, buah ni tetap punyai khasiat tersendiri... Ianya buah hutan kan... tapi ciptaan Allah tiada yang sia-sia kan... 
 
Meningkatkan Stamina
Buah terap merupakan buah yang kaya akan mafaat bagi kesehatan tubuh. Buah terap mengandung zat yang dapat menambah energi dalam tubuh yang dapat meningkatkan stamina. Tubuh hendaknya memerlukan pasokan energi yang cukup untuk membantu aktivitas kinerja tubuh dalam beraktivitas. Sama halnya dengan nasi yang mengandung karbohidrat, akan tetapi buah ini lebih rendah kadar kabohidratnya namun kinerjanya mengalahkan energi yang diciptakan oleh kandungan karbohidrat dalam nasi. 
 
Melancarkan Pencernaan
Buah terap juga berfungsi untuk melancarkan pencernaan. Buah terap mengandung zat yang mampu menghancurkan gas dalam perut yang mengakibatkan perut kembung, serta dapat melancarkan buang air besar. Bahkan khasiat buah terap ini mampu menyembuhkan penyakit buasir.
 
Meningkatkan Kemampuan Seks
Buah terap selain sebagai peningkat stamina juga memiliki khasiat untuk meningkatkan kemampuan seksual lelaki. Dengan rutin pengambilan buah terap ini mampu membantu pembentukan vital lelaki. Proses produksi buah ini boleh diambil dengan cara memakan buahnya atau boleh juga dibuat jus untuk memudahkan dan lebih cepat diproses oleh badan atau boleh juga dibuat dalam adunan kuih ketika sarapan pagi.
 
Memperbaiki Kualiti Sperma
Buah terap juga memiliki kemampuan untuk memperbaiki kualiti sperma. Dengan mengambil buah terap sama ada memakannya dalam bentuk kuih atau dalam bentuk minuman jus berkhasiat sebagai pembangkit hasrat seksual serta memperbaiki kualiti sperma.
   
Memberikan Nutrisi Pada Tulang
Kandungan zat kalsium yang terdapat pada buah terap ini juga mampu membantu menutrisi tulang. Selain itu juga mampu untuk mencegah dari penyakit kerapuhan sendi pada tulang. Sehingga dengan mengambil buah terap ini secara teratur mampu meningkatkan dan menguatkan kualiti tulang dalam tubuh.
 
Menyembuhkan Ulser Mulut
Dalam buah terap juga terdapat kandungan Vit C yang mampu membantu mencegah dan merawat ulser pada mulut. Jika makan buah terap secara kerap bakteria yang menyebabkan ulser akan hilang danakan terbebas dari panas dalam dan bau mulut.
 
Mencerahkan Kulit
Buah terap juga dapat dibuat lulur atau scrub untuk membantu mencerahkan kulit. Selain itu, khasiat buah terap ini juga berfungsi mengangkat kulit mati, serta memperkecil pori-pori pada kulit wajah. Gunakan scrub wajah dan taburi pupur buah terap atau oleskan saripati buah terap pada muka dan biarkan selama kurang lebih tiga puluh minit, kemudian lepaskan dan bilas dengan air bersih, muka akan tampak lebih tegang dan segar. 
Sumber: Internet
 
Nampak biasa kan.. tapi banyak khasiatnya... MF kongsi info ni, sebab mana la tau bila kita pergi hutan, lapar kan.. jadi sekurang-kurang dah tahu boleh survive... dan tahu, buah hutan ini selamat di makan... MF sendiri tahu je, tapi tak pernah makan lagi... Mak bapa MF pernah la makan... dulu rasanya kat kampong, tapi dah pupus agaknya pokok ni... Jadi, limited lah kalau nak jumpa pun..

Amalan Ibu Bapa Semasa Anak Menduduki Peperiksaan!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang)

Dah masuk bulan September, maknanya peperiksaan besar dalam negara kita pun bermula... Semalam dah mula peperiksaan UPSR untuk tahun 6, dan bulan OKtober diikuti dengan peperiksaan PT3 bagi Tingkatan 3 dan Bulan November pula peperiksaan SPM bagi Tingkatan 5. 

Harapan ibu ayah, mesti nak anaknya cemerlang dan berjaya kan.. sama matlamatnya dengan para guru yang berhempas pulas memastikan anak-anak didiknya mendapat keputusan yang cemerlang. 

Jadi, MF nak kongsikan amalan yang disarankan kepada ibu bapa lakukan sepanjang berlangsungnya peperiksaan anak-anak ini... Perkongsian ini adalah group Telegram yang MF join... 

**************************************

Untuk ibubapa yang mempunyai anak yang akan menduduki peperiksaan..
Perkongsian daripada Ustaz Zahazan Mohamed (YDP PIBG SMKAKL)

1. Hari exam ibubapa bangun awal, solat hajat, sahur, puasa dan doakan untuk mereka dan sekalian orang Islam sepanjang puasa 
2. Banyakkan sedeqah walaupun pada binatang
3. Beri anak minum air zam-zam atau air masak banyak
4. Pastikan anak mendapat tidur yang mencukupi

5. Amalkan doa ayat ke 74 surah al-Furqan, Niatkan untuk mereka agar diberikan idea, kefahaman dan kelancaran dalam menjawab soalan. 

6. Beri anak keyakinan bahawa mereka mampu lakukan yang terbaik, pesan mereka untuk baca doa sebelum memulakan jawapan, berselawat bila menghadapi kesukaran dan petua-petua yang lain

7. Ingat ! Jangan sekali-kali menjadikan anak stress dengan permintaan-permintaan yang luar biasa, memadailah kata-kata berisi doa, motivasi dan peniup semangat untuk mereka.


Antara surah yang digalakkan untuk ibubapa baca,


1. Surah al-Insyirah 
2. Surah al Hasyr ayat 21-24
3. Surah al Rahman 1-13 

Niatkan semasa membaca surah-surah ini agar anak mendapat ilmu, mudah menjawab dengan cemerlang ..

#buat semua calon PEPERIKSAAN 2016

Untuk ibubapa yang anaknya bakal menghadapi pepriksaan, sedikit perkongsian kaifiat solat hjat yang diajarkan oleh sebilangan ulama.

Solat hajat 4 rakaat 1 salam (tanpa tahiyat awal)
1. Lafaz niat "sahaja aku solat sunat hajat 4 rakaat kerana Allah Ta'ala"
2. Rakaat pertama Al-Fatihah+ayat kursi+al-Ikhlas 11x
3. Rakaat kedua Al-Fatihah+ayat kursi+Al-Ikhlas 20x
4. Rakaat ketiga Al-Fatihah+ayat kursi+Al-Ikhlas 30x
5. Rakaat keempat Al-Fatihah+ayat kursi+Al-Ikhlas 40x
6. Sujud akhir baca zikir nabi yunus 41x
لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين
7. Selepas salam baca Al-Ikhlas 50x + Hauqalah 50x
لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
8. Doa
*Disarankan berpuasa sunat sepanjang waktu peperiksaan anak-anak berlangsung.

23 Ogos 2016

Perbezaan Cara Berwuduk Mengikut Empat Mazhab!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang)


Entry kali ni macam refresh balik apa yang pernah MF belajar kat universiti dulu... Bab fiqh syariah ni antara subjek feveret MF masa sekolah Arab hinggalah ke universiti tapi subjek ni susah juga Hendak skor... apa pun MF suka subjek fiqh sebab berkaitan hukum hakam Islam... seronok bila tahu sesuatu hukum tu..dan pandangan ikut mazhab fiqh yang empat.

Pernah terbaca satu isu adakah wuduk terbatal jika bersentuhan suami isteri... ada juga tengok video penerangan daripada Ustaz Dr. Rozaimi tentang isu ni... Bila tonton video tu... MF tertanya dan teringat pasal ustaz pesan... kalau bab wuduk ni, Hendak kira batal ke tak.. tengok pula cara kita wuduk... kalau kita wuduk ikut mazhab Syafie, maka cara batal wuduk juga ikut mazhab yang sama.

Disebabkan masih ada kekeliruan tu, MF Hendak refresh ilmu yang pernah belajar dulu... iaitu cara berwuduk ikut mazhab yang empat.


Perbandingan Wuduk 4 Mazhab
Hukum wuduk adalah  WAJIB untuk menunaikan solat. Hukum ini mula diwajibkan di Madinah

Firman Allah swt :
"Wahai orang-orang yang beriman ! Apabila kamu hendak melaksaHendakan solat, maka basuhlah
wajahmu, dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki..." (al-Maa'idah)

Sabda Nabi SAW :
"Allah tidak akan menerima solat seseorang diantara kamu yang telah berhadas hingga dia berwudhu."
(Riwayat asy-Syaikhan)

HUKUM WUDUK

Mazhab Hanafi

Ada 5 bahagian :

1. Fardhu bila ingin melakukan
Solat fardhu atau sunnah, solat sempurna atau tidak seperti solat jenazah dan sujud tilawah.
Pegang Quran, walau hanya sepotong ayat atas kertas, atau wang.
Firman Allah, "Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan." (al-Waaqi'ah: 79)
Sabda Rasulullah saw: "Al-Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang yang suci dari hadas."(hadis ini dhaif, tetapi Ibnu Hajar berkata hadis ini diterima (Nailul Authar, Jilid 1, hIm.204)

2. Wajib jika ingin
Tawaf
Mengelilingi Ka'bah. Jumhur selain Hanafi kata fardhu.
Nabi saw bersabda ; "Thawaf di Baitullah itu merupakan solat, hanya saja Allah membolehkan percakapan di dalamnya. Oleh sebab itu, barangsiapa bercakap di dalam tawaf, maka hendaklah dia hanya mengucapkan perkara yang baik." (HR. at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas)

3. Sunat wuduk bila ;
Setiap kali Hendak solat. Nabi saw bersabda, "Jika tidak kerana dikhawatirkan aku menyusahkan umat ku, tentu aku menyuruh mereka berwudhu pada setiap hendak melaksaHendakan solat dan setiap wudhu juga hendaklah disertai dengan bersiwak." (HR Ahmad dengan isnad yang SAHIH dari Abu Hurairah)
Sentuh buku agama. Tapi jika dalam buku tu ayat Quran lebih banyak dari tafsirnya, maka haram tanpa wudhu.
Wuduk ketika hendak tidur dan setelah bangun
Sebelum Hendak mandi Junub
Sesudah marah
Untuk baca Quran, mengkaji dan riwayat hadis, baca buku agama
Hendak azan, iqamah
Setelah buat salah seperti mengumpat, bohong, hasad
Setelah ketawa terbahak-bahak
Sesudah memandi dan hantar mayat.

4. Makruh
Ulangi wuduk sebelum melaksaHendakan solat.

5. Haram
Berwuduk dengan air rampasan dan wuduk dengan air milik ank yatim.

MAZHAB MALIKI
Ada bahagian 5

1. Wajib
Untuk solat fardhu, sunnah,
Untuk sujud sajdah
Solat jenazah
Sentuh quran
Tawaf
2. Sunat
Orang junub (hadas besar) ketika ingin tidur.

3. Mustahab
Wuduk yang dilakukan setiap kali Hendak solat bagi perempuan yang istihadah dan orang berpenyakit lemah kawalan pundi kencing.

4. Mubah (Harus)
Berwuduk untuk membersih diri dan sejukkan badan

5. Makruh
Wuduk yang diperbaharui, sedang ia belum melakukan ibadah apa pun dengan wudhu pertama.

MAZHAB SYAFI'I dan HAMBALI

1. Memiliki pendapat sama dengan ulama mazhab Hanafi dan Maliki.
2. Menurut mazhab Syafie sunat berwuduk setelah :
bekam
hidung berdarah
sewaktu mengantuk
setelah tidur punggung rapat
setelah ketawa terbahak-bahak ketika akan solat
setelah makan sesuatu dalamasak dengan api
makan daging unta
ketika ragu-ragu hadas
ketika ziarah ke kubur
hantar dan ziarah mayat.


RUKUN-RUKUN WUDHU

Rukun Yang Disepakati Oleh Semua Ulama

1. Membasuh muka:
Firman Allah swt :
"...maka basuh lah wajahmu..." (al-Maa'idah : 6)

Membasuh semua bahagian luar muka dengan sekali basuhan saja.
Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata,
"Rasulullah saw berwuduk dengan membasuh sekali-sekali."
(Riwayat al-Jamaah kecuali Imam Muslim-Nailul Authar, Jilid I, hlm. 172)

Maksudnya meratakan air pada satu anggota tubuh hingga air tersebut menitis
Sekurang-kurangnya 2 titisan. Membasuh 3 kali, hukumnya sunat.

Muka:
i. Ukuran panjangnya adalah antara tempat tumbuhnya rambut kepala -- dalam keadaan normal -- hingga ke bahagian akhir dagu (bawah dagu).
ii. Dagu = tempat tumbuhnya janggut
iii. Lebar muka adalah bahagian di antara dua aHendak telinga.
iv. Mazhab Hanafi dan Syafi'i - bahagian kosong antara hujung pipi dan telinga termasuk anggota muka
v. Mazhab Maliki dan Hambali - ia termasuk anggota muka.

Mulut dan hidung
Mazhab Hambali pendapat wajib berkumuh dan bersihkan hidung.

Bismillah
Mazhab Hambali mewajibkan bismillah ketika wuduk.

2. Membasuh kedua tangan hingga ke siku dengan sekali basuhan

Firman Allah swt:
"...maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku..." (al-Maa'idah: 6)

Cara Wudhu Rasulullah saw ;
"Bahawa Nabi Muhammad saw berwudhu, kemudian baginda membasuh muka. Maka, sempurnalah wudhunya. Setelah itu, baginda membasuh tangan kanan hingga ke bahagian atas tangan (siku), kemudian Rasul membasuh tangan kiri hingga ke bahagian atas tangan (siku)." (Nailul Authar, Jilid 1, hlm. 152)
Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Jabir berkata,
"Jika Nabi Muhammad saw berwudhu, maka baginda mengalirkan air ke atas dua sikunya." (Ibid..)

Wajib basuh celah jari dan bahagian yang tertutup di bawah kuku yang panjang yang menutupi ujung jari.

Mazhab Maliki berpendapat wajib mengisipi celah-celah jari tangan dan kaki.

Cincin
Jumhur, wajib gerakkan cincin yang ketat,
Mazhab Maliki - tak wajib walaupun cincin tu ketat dan air tak tepat masuk tanahnya,

3. Mengusap Kepala
Firman Allah swt: "Dan usaplah kepala kamu." (al-Maa'idah: 6)

Imam Muslim meriwayatkan,
"Sesungguhnya Nabi Muhammad saw telah mengusap ubun-ubun dan serbannya."

Mengusap = ialah pergerakan tangan yang basah di atas suatu anggota badan.
Kepala = ia bermula dari bahagian atas dahi hingga lubang tengkuk di bahagian belakang.

Mazhab Hanafi - wajib usap seperempat kepala dengan satu usapan.
Hadis diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Anas,
"Saya telah melihat Rasulullah saw berwudhu, iaitu pada waktu baginda memakai serban Qhatriyyah (serban yang dibuat di Qatar).Baginda memasukkan tangan ke bawah serbannya dan mengusap bahagian depan kepala tanpa menanggalkan serban tersebut." (Nailul Authar, Jilid 1, hlm. 157, 167 )

Tindakan Rasulullah itu dianggap sebagai penjelasan kerana ubun-ubun merupakan seperempat kepala saja.

Ulama Maliki dan salah satu riwayat yang rajih (kuat) di kalangan ulama Hambali - wajib usap semua bahagian kepala, tak boleh hanya usap rambut.

Pendapat yang zahir dari ulama mazhab Hambali, kewajiban mengusap seluruh bahagian kepala hanyalah khusus bagi lelaki. Naman wanita, cukup dengan usap bahagian depan kepala saja kerana Aisyah usap depan saja. Juga wajib usap kedua cuping telinga bahagian luar dan dalam kerana kedua anggota itu termasuk kepala.

Hadis di riwayat oleh Ibnu Majah, "Dua telinga adalah sebahagian dari kepala."

Dari Ibnu Abbas, ia berkata,
"Nabi Muhammad saw mengusap kepalanya, kedua telinga sebelah luar dan juga dalamnya." (HR at-Tirmidzi dan dia mengatakan sebagai SAHIH) -Naulul Authar, Jilid 1, hlm. 162.

Usapan hanya sekali. Tak sunnah ulangi usapan. At-Tirmidzi dan Abu Dawud mengatakan pendapat ini jadi pegangan majoriti ahli ilmu. Kerana Rasulullah saw hanya usap kepala satu kali saja. Dalam riwayat itu, mereka juga menyebut bahawa pada wudhu Rasulullah saw (ketika membasuh bahagian) yang lain, baginda basuh sebanyak tiga kali.

Usap Seluruh kepala
Abdullah bin Zaid meriwayatkan bahawa Rasulullah saw telah mengusap kepalanya dengan kedua tangannya. iaitu, mengusap ke depan dan ke belakang dengan memulakan pada bahagian depan kepala, kemudian baginda menurunkannya hingga ke bahagian tengkuk. Setelah itu Rasul kembali memulai dari tempat baginda memulai mengusap. (Riwayat al-Jama'ah : hadis Hasan)

Ulama sepakat ini hanya sunnah, seperti diterangkan oleh an-Nawawi.

Ulama mazhab Syafi'i - wajib usap sebahagian kepala saja, meskipun hanya menyentuh sehelai rambut yang ada pada atas kepala, iaitu gigi tidak keluar dari kepala jika ditarik ke bawah. Membasuh kepala hukumnya harus, kerana perbuatan itu sudah memenuhi perbuatan mengusap. letak tangan atas kepala meskipun tanpa menariknya juga harus.

Ulama Hambali - basuh kepala tanpa gerak tangan tidak mencukupi.

Dalil ulama Syafie :
Hadis diriwayatkan oleh asy-Syaikhan. Hadis tersebut menyatakan bahawa Rasulullah saw mengusap ubun-ubunnya dan juga mengusap serban di bahagian atas. Oleh sebab itu, mengusap sebahagian kepala saja adalah mencukupi, kerana apa yang diperintahkan adalah perbuatan mengusap saja, dan ia telah terlaksana dengan usap sebahagiannya.

Usap 3 helai rambut?
Perbuatan itu tidak dapat disebut sebagai mengusap.

4. Membasuh Kedua Kaki Hingga Kedua Mata Kaki.

Firman Allah swt:
"...dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki... " (al-Maa'idah : 6)

Hadis diriwayatkan oleh Amru bin Absah dan diceritakan oleh Imam Ahmad,
"Kemudian Rasulullah mengusap kepalanya seperti yang diperintahkan Allah. Setelah itu baginda membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki seperti yang diperintahkan Allah."

Hadis riwayat oleh Abdullah bin Zaid dan hadis Abu Hurairah:
Dua mata kaki adalah dua tulang yang timbul di kedua belah kaki, iaitu pada sendi kaki.

Diriwayat oleh Abu Hurairah,
"Kemudian baginda membasuh kaki kanannya hingga ke betis, setelah itu membasuh kaki kirinya hingga ke betis." Kemudian dia berkata "Begitulah saya melihat Rasulullah saw berwudhu." (HR. Muslim (Nailul Authar, Jilid 1, hlm 152)

Basuh atau usap ?
Menurut pendapat jumhur, wajib membasuh kedua kaki dengan kedua rata kakinya. Tak cukup hanya mengusap . Rasulullah saw bersabda, "Celakalah bagi tumit-tumit kaki yang akan dalamkan api neraka."

Riwayat Imam Ahmad dan asy- Syaikhan dari Abdullah bin Umar, dia berkata,
"Kami tertinggal di belakang dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah. Kemudian kami dapat mengejarnya dan waktu Asar pun masuk. Lalu kami mengambil wudhu dan mengusap kaki kami. Rasul kemudian berseru dengan kuat, "Celakalah bagi tumit-tumit kaki yang akan dalamakan api neraka." Rasul mengucapkan kalimah ini sebanyak dua atau tiga kali (Nailul Authar. Jilid 1, hlm 167)

Kesimpulan : rukun-rukun wudhu yang telah disepakati semua ulama ada 4 :
1. membasuh muka
2, 3. membasuh kedua tangan, dan kedua kaki dengan sekali basuhan
4. usap kepala dengan satu kali usapan
Membasuh atau mengusap tiga kali, adalah sunat.

Rukun Wudhu Yang Diperselisihkan

Antaranya hukum wajibnya niat, tertib, muwalah (berturut- turut dan gosok anggota wudhu.

Ulama selain Mazhab Hanafi mengatakan → niat adalah fardhu (rukun)
Ulama mazhab Maliki dan Hambali mengatakan → muwalah (berturut-turut) adalah wajib.
Ulama mazhab Syafie dan Hambali mengatakan → tertib adalah wajib dan termasuk rukun wudhu.
Hanya ulama mazhab Maliki mengatakan → gosok anggota wudhu adalah wajib.

Niat

Jumhur fuqaha, selain ulama mazhab Hanafi berpendapat → niat adalah fardhu (rukun) dalam wudhu, supaya sahnya ibadah.
Jadi solat dianggap tidak sah jika wudhunya diniatkan untuk kerjakan perbuatan lain selain ibadah, seperti berwuduk dengan niat ingin makan, minum dan lain-lain.
Mazhab Hanafi mengaanggap niat itu sunnah.

Rasulullah saw bersabda ;
'Sesungguhnya setiap perbuatan itu berdasarkan kepada niatnya, dan setiap orang berhak mendapatkan apa yang telah diniatkannya." (Muttafaq'alaih)

Tertib
Basuhan satu demi satu secara urutan seperti dalam nash al-Quran.

Ulama Mazhab Hanafi dan Maliki mengatakan → sunnah mu'akkad, bukan termasuk fardhu. Imam Ali ra berkata, "Saya tidak peduli dengan anggota mana yang telah saya mulakan."
Ulama Mazhab Syafi'i dan Hambali mengatakan → tertib adalah fardhu dalam wudhu dan tidak wajib dalam mandi. Wuduk tidak sah jika tidak tertib. Nabi saw bersabda;
"Mulakan seperti yang telah dalamulakan oleh Allah." (Hadis Riwayatan-Nasa'i-sanad SAHIH)

Tak wajib tertib bagi dua anggota kanan dan kiri→ tangan dan kaki, namun tertib adalah sunnah.

Berturut-turut (Muwalah)
Amalan wuduk hendaklah dilakukan secara berterusan, tidak ada ruang masa sebagai pemisah di antara satu perbuatan dengan yang lainnya.

Ulama mazhab Hanafi dan Syafi'i berpendapat → sunnah bukan wajib
Diriwayatkan, Nabi saw pernah wuduk di dalam sebuah pasar. Baginda membasuh muka dan kedua tangannya, serta mengusap kepala. Setelah itu, baginda dalaminta untuk melaksaHendakan solat jenazah, kemudian baginda datang ke masjid sambil mengusap dua khuf-nya dan melaksaHendakan solat jenazah tersebut. " (Hadis Sahih, riwayat Imam Malik)

Ulama mazhab Maliki dan Hambali mengatakan → muwalah adalah fardhu (rukun) wudhu, namun ia bukan rukun dalam mandi.

Menggosok Secara Perlahan dengan Tangan

Jumhur ulama selain ulama mazhab Maliki mengatakan → menggosok adalah sunnah. Tidak wajib. Ia tidak disebut dalam sifat wuduk nabi
Ulama mazhab Maliki mengatakan → gosok dengan tapak tangan bukan belakang. Hukum nya wajib meskipun air sudah sampai ke kulit.
Hadis bermaksud , "Basahkan lah rambut dan bersihkan kulit." (Nailul Authar, Jilid 1)
ini hadis sahih yang menunjukkan wajibnya menggosok, kerana membersih sesuatu tidak hanya sekadar mengucurkan air keatasnya.

Menurut pendapat Dr Wahbah, gosak adalah sunnah. Ia tidak wajib kerana hadis yang menceritakan basuhan dilakukan oleh Nabi, tidak menunjukkan nabi menggosok.

Sunnah-Sunnah Wuduk

1.Niat
Mazhab Hanafi - ia sunnah.
Jumhur Ulama - ia fardhu
lafaz niat - sunnah

2.Basuh kedua tangan hingga pergelangan tangan sebanyak 3 kali
Nabi saw bersabda;
"Apabila salah satu di antara kamu bangun dari tidur, maka hendaklah ia mencuci tangannya sebelum ia memasukkan ke dalam tempat air. Kerana, tidak ada orang yang tahu dalamaHendakah ia meletakkan tangannya pada waktu tidur."
(HR al-A'immah as-sittah dalam kitab mereka dari Abu Hurairah)

basuh 3 kali- sunnah
pendapat rajih- satu kali basuhan
Mazhab Hambali - basuh 3kali →sunnah bagi orang bangun tidur selain tidur malam.

3. Membaca " bismillah" pada permulaan wudhu - masa basuh dua pergelangan tangan

Bacaan seperti diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Abu Hurairah dengan sanad hasan;
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya atas nikeranaat agama Islam."

Pendapat lain, afdal adalah ;
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
ini berdasarkan hadis;

"Setiap perkara yang penting yang tidak dalamulai dengan membaca bismillah maka ia terputus." (Hadis lemah)

Mazhab Maliki -ia kelebihan wudhu
Mazhab Hambali -wajib bacanya
Sabda Rasul saw;
"Tidaklah sah solat seseorang yang tidak berwuduk, dan tidaklah sah wudhuk seseorang yang tidak menyebut nama Allah." (hadis sahih dari abu Hurairah diriwayatkan oleh Abu Dawud)

- wudhu dan tidak menafikan sahnya wudhu. Alasan mereka kerana ayat wudhu yang menjelaskan perkara-perkara wajib tidak menyebutnya.

4. Berkumuh dan bersihkan hidung
Jumhur Ulama - sunnah muakkad selain Mazhab Hambali.
Para fuqaha bersepakat sunnahnya madhmadhah (berkumur) dan istintsar secara berlebihan/ keras bagi orang Tidak puasa.

Sabda Rasul saw. diriwayat dengan sanadnya disahkan oleh Ibnul Qaththan,
"Apabila kamu berwudhu, hendaklah berlebihan ketika bermadhmadhah (berkumur) dan beristinsyaq (masukkan air dalam hidung) selama kamu tidak berpuasa."

Sebuah hadis yang lain riwayat Laqith bin Sabrah menyebutkan ;
"Sempurnakanlah wudhu, gosoklah celah-celah jari dan lebihkan istinsyaq (masukkan air dalam hidung) kecuali jika kamu berpuasa." (Hadis Sahih )

Sunnah masukkan jari tangan kiri ke bahagian-bahagian tersebut.


Mazhab Hambali - madhmadhah (berkumur) dan istinsyaq (masukkan air dalam hidung) adalah wajib.

Rasulullah tidak pernah tinggalkan keduanya. HR oleh Imam Ali yang menyatakan bahawa, "Jika Rasul berwudhu, baginda berMadhmadhah, baristinsyaq, (masukkan air dalam hidung) dan beristintsar (mengeluarkan air dari hidung) dengan tangan kirinya. Baginda melakukan hal itu sebanyak tiga kali." setelah itu baginda bersabda, "Inilah cara bersuci Nabi Allah saw.. "(Diriwayat oleh Ahmad dari Ali -Nailul Authar)

Sebahagian dari ulama mazhab Syafi'i dan ulama yang lain mengakui kelemahan dalil pendapat tidak wajib madhmadhah, istintsar dan istinsyaq.

5. Bersiwak
Hukumnya sunnah disepakati ulama kecuali ulama mazhab Maliki yang anggap satu perbuatan baik.

6. Menyela-ngelai janggut, jari tangan, dan jari kaki.
Sunnah menyela janggut
Sunnah menyela jari tangan dan jari kaki -sepakat Fuqaha.

Hadis Riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi, dan dia anggap sebagai Hadis Sahih bahawa Rasul telah menyela janggutnya. Selain itu, terdapat Hadis lain Diriwayat Abu Dawud yang menyatakan bahawa jika Rasul hendak Wudhu, baginda mengambil seceduk air, lalu mengarahkannya ke bawah dagu dan baginda menyela janggutnya. Setelah itu baginda bersabda, "Beginilah Tuhanku menyuruh aku melakukannya."
( Nail al-Authar Jilid 1, hlm. 148)

Hadis Riwayat Ibnu Abbas menyatakan Rasul saw bersabda,
"Apabila kamu berwudhu, maka seIailah jari kedua tangan dan juga jari kedua kakimu." ( HR Ahmad -Nail al-Authar)

7. Membasuh sebanyak 3 kali.
para fuqaha sepakat - sunnah 3 kali
Ulama madzhab Maliki - perbuatan baik

Amru bin Syu'aib menjelaskan bahawa Rasul membasuh dua telapak tangan, muka dan kedua lengannya sebanyak tiga kali.

(HR Abu Dawud. Pada bahagian akhirnya disebut, "Demikianlah wudhu. Siapa yang menambah atau menguranginya , maka dia telah melakukan kesalahan dan zalim, atau zalim dan melakukan kesalahan." - Nashbur Rayah, Jilid I)

Ia tidak diwajibkan, kerana Rasulullah saw pada satu waktu berwuduk dengan sekali basuh saja. Lalu baginda bersabda, "Inilah amalan yang diterima oleh Allah."

Pada waktu yang lain, Rasul berwudhu dengan membasuh sebanyak dua kali. Setelah itu baginda bersabda, "Allah akan menggandakan pahalanya sebanyak dua kali."

Pada waktu yang lain, Rasulullah berwudhu dengan membasuh sebanyak tiga kali. Setelah itu baginda bersabda, "Inilah wudhuku dan juga wudhu para Nabi sebelumku." (HR ad-Daruquthni dari Abu Hurairah, tapi dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang lemah, ibid..)

Para Ulama dan  majoriti sahabat - tak sunnah ulang usap kepala 3 kali
Hadis riwayat Abdullah tentang wudhu nabi ; "Baginda mengusap kepala dengan satu kali usap saja." (muttafaq'alaih)

Ulama mazhab syafie - sunnah usap tiga kali.
Hadis diriwayatkan dari Anas,"Mengulang sebanyak tiga kali adalah perbuatan yang lebih afdal."

Hadis lain riwayat Sayaqiq bin Salamah menurut catatan Abu Dawud, dia berkata,
"Saya melihat Utsman bin Affan membasuh dua lengannya sebanyak tiga kal, kemudian dia berkata, 'Saya melihat Rasulullah saw melakukan hal yang seperti ini."

Telah diriwayatkan hadis yang sama seperti diatas oleh beberapa sahabat Rasulullah saw seperti Utsman, Ali, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Aufa, ar-Rubayi, dan Ubay bin Ka'ab. Mereka semua meriwayatkan bahawa Rasulullah saw telah berwuduk dengan mengulang (perbuatan wudhunga) sebanyak tiga kali.

Akan tetapi, jumhur ulama menolak pendapat ulama mazhab Syafi'i dengan menyatakan bahawa tidak terdapat penjelasan yang terang dalam hadis yang jadi hujjah mereka.

Dengan ini, maka jelaslah bahawa pendapat jumhur menjadi bukti yang lebih kuat dari sunnah yang sahih.

8. Mengusap seluruh kepala
Ulama Mazhab Syafi'i dan Hanafi - hukum sunnah
Ulama mazhab Hanafi -Sunnah dengan sekali usap saja. Hadis riwayat Amru bin Syu'aib terdapat lafaz, "Kemudian Rasul mengusap kepalanya," tanpa menyebut jumlah Usapan."
Hadis di riwayatkan Abu Habbah yang menjelaskan cara wudhu Ali, "Dan beliau mengusap kepala dengan sekali usap." ( HR at-Tirmidzi. beliau menetapkannya sahih)

Ulama mazhab syafie - sunnah dengan tiga kali usap
HR Abu Dawud dengan sanad hasan bahawa Uthman berwudhuk, lalu dia mengusap kepala sebanyak tiga kali. Setelah itu dia berkata, "Saya melihat Rasulullah saw berwudhu dengan cara seperti itu."

Ulama mazhab Maliki dan Hambali -usap seluruh kepala adalah wajib

Ulama mazhab Syafi'i dan  Hambali - boleh usap sebahagian kepala saja, dan selebihnya disempurnakan dengan wap serban jika ia sukar untuk buka serban itu.

Nabi saw mengusap uban-uban di atas serban baginda dan juga mengusap ke atas kedua khuf-nya. (HR muslim)

9. Mengusap kedua telinga pada bahagian luar dan bahagian dalam air yang baru.

Jumhur Ulama - hukumnya sunnah kerana nabi saw sewaktu berwudhuk, mengusap kepala & kedua telinga serta baginda mengguHendakan air yang baru untuk kedua perbuatan tersebut.

Ulama mazhab Hambali - wajib asap dua telinga, kerana kedua-duanya termasuk anggota kepala. Hadis menyebut ; "Dua telinga adalah sebagian dari kepala." (HR Ibnu Majah melalui beberapa sanad. Tapi ada perawi yang di perselisihkan)

Pandangan Dr Wahbah az-Zuhaili - pendapat yang rajih adalah yang mengatakan bahawa kedua  sunnah mengusap kedua telinga kerana hadis yang mengatakan kedua telinga termasuk sebahagian dari kepala tidak ada. Dan jika hadis tersebut ada, maka ia adalah sebuah hadis yang lemah sehingga Ibnush Shalah berkata,
"Kelemahannya adalah banyak, sehingga tidak dapat ditutup dengan banyaknya jumlah sanad-nya."

Ulama Mazhab Syafii - sunnah usap telinga 3 kali.

Jumhur Ulama - sunnah satu kali.

10. Memulakan dengan anggota yang sebelah kanan ketika membasuh kedua tangan dan kedua kaki.


Ulama Mazhab Maliki - ia perbuatan yang baik saja.
Dalil sunnahnya adalah hadis riwayat Aisyah,
"Rasulullah saw sangat gemar untuk memulai dengan anggota kanan ketika memakai sepatu, menyisir rambut dan ketika bersuci. Begitu juga dalam semua urusannya." (muttafaq'alaih)


Ulama mazhab Hanafi dan Syafi'i - sunnah mula dengan hujung jari dan bahagian atas kepala.

Ulama mazhab Syafi'i - sunnah mula basuh bahagian atas muka

Ulama mazhab Maliki - Sunnah mula pada bahagian depan tiap anggota.


sumber : Fiqh Islam Wa Adillatuhu (jilid1 hal.297) oleh Prof Dr Wahbah Az-Zuhaili.

Memang panjang penerangannya, tapi inilah ilmu yang wajib kita ketahui... sebab beramal wajib berpandukan ilmu bukan sekadar ikut-ikutan.. 

Baca dan hayati dengan teliti... cara kita selama ni sempurna atau tidak... atau sekadar sambil lewa sahaja.

18 Ogos 2016

Senarai 70 Dosa Besar Menurut Adz-Dzahabi!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang)


70 Dosa Besar Menurut Adz-Dzahabi, iaitu dipetik dari buku al-Kabair. Kitab ni pernah dikupas dalam rancangan cinta Ilmu di TV al-Hijrah, tapi tak habis... Jadi, MF nak kongsi secara ringkas, apakah 70 Dosa Besar yang disenaraikan oleh Adz-Dzahabi dalam kitab al-Kabair. 

Baca >>> APA ITU AL-KABAIR<<<

Dosa besar ialah dosa dan perlakuan salah yang dijelaskan hukuman dan laknat serta akibat yang disebut secara jelas dalam al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Menurut az-Zanabi (ada juga yang menulis Adz-Dzahabi) dalam bukunya ‘Al-Kabaair’, ada dinyatakan sebanyak 70 dosa besar dan daripada 70 itu diringkaskan kepada jenisnya seperti berikut:
  1. Empat jenis di hati iaitu syirik, terus-menerus berbuat maksiat, putus asa dan berasa aman daripada seksa Allah.
  2. Empat jenis pada lisan iaitu kesaksian palsu, menuduh berbuat zina pada wanita baik-baik, sumpah palsu dan mengamalkan sihir.
  3. Tiga jenis di perut iaitu minum arak, memakan harta anak yatim dan memakan riba.
  4. Dua jenis di kemaluan, iaitu zina dan homoseksual.
  5. Dua macam di tangan iaitu membunuh dan mencuri.
  6. Satu di kaki iaitu lari dalam peperangan.
  7. Satu di seluruh badan iaitu derhaka terhadap orang tua.

Maknanya, semua anggota badan kita ni berpotensi untuk melakukan dosa... sama ada kita sedar atau tidak. 

Dosa kecil pula adalah dosa-dosa yang tidak tersebut di atas. Walau bagaimanapun, dosa kecil akan menjadi besar jika dilakukan terus-menerus. Menurut Imam Hasan al-Basri, tidak ada dosa kecil apabila dilakukan dengan terus-menerus dan tidak ada dosa besar apabila disertai dengan istighfar.

Sumber: google images


1. Syirik atau Menyekutukan Allah SWT

2. Membunuh manusia

3. Melakukan sihir

4. Meninggalkan solat

5. Tidak mengeluarkan zakat

6. Tidak berpuasa tanpa alasan yang kuat pada bulan Ramadhan

7. Tidak mengerjakan Haji walaupun berkemampuan

8. Derhaka kepada Ibu Bapa

9. Memutuskan silaturahim

10. Berzina

11. Melakukan liwat atau homoseksual

12. Memakan riba

13. Memakan harta anak yatim

14. Mendustakan Allah SWT dan rasul-Nya

15. Lari dari medan perang

16. Pemimpin yang menipu dan kejam

17. Sombong

18. Saksi palsu

19. Meminum minuman beralkohol

20. Berjudi

21. Menuduh orang baik melakukan zina

22. Menipu harta rampasan perang

23. Mencuri

24. Merompak

25. Sumpah palsu

26. Berlaku zalim

27. Pemungut cukai yang zalim

28. Makan dari harta yang haram

29. Bunuh diri

30. Berbohong

31. Hakim yang tidak adil

32. Memberi dan menerima rasuah

33. Wanita yang menyerupai lelaki dan juga sebaliknya

34. Membiarkan isteri, anak atau ahli keluarganya yang lain berbuat keji dan memudahkan anggota keluarganya tersebut untuk melakukan perbuatan tidak bermoral.

35. Menikahi wanita yang telah bercerai agar wanita tersebut kemudiannya boleh kembali berkahwin dengan suaminya terdahulu (perbuatan cina buta).

36. Tidak melindungi pakaian dan tubuhnya dari terkena hadas kecil seperti air kencing atau kotoran.

37. Riak atau suka membangga diri.

38. Ulama yang mempunyai ilmu tetapi tidak mahu mengamalkan ilmunya tersebut untuk orang lain.

39. Khianat

40. Mengungkit-ungkit pemberian

41. Mangingkari takdir Allah SWT

42. Mencari-cari kesalahan orang lain

43. Menyebarkan fitnah

44. Mengutuk dan mendoakan keburukan untuk umat Islam

45. Mengingkari janji

46. Percaya kepada sihir dan nujum

47. Derhaka kepada suami

48. Membuat patung

49. Menamparkan pipi dan meratap jika terkena bala

50. Menggangu orang lain

51. Berbuat zalim terhadap yang lemah

52. Menggangu jiran tetangga

53. Menyakiti dan memaki orang Islam

54. Derhaka kepada hamba Allah SWT dan menggangap dirinya baik

55. Melabuhkan pakaian bagi lelaki

56. Lelaki yang memakai sutera dan emas

57. Seorang hamba (budak) yang lari dari Tuannya

58. Sembelihan untuk selain dari Allah SWT

59. Seorang yang mengaku bahawa orang lain sebagai ayahnya.

60. Berdebat dan bermusuhan

61. Enggan menyedia dan memberikan kemudahan air

62. Mengurangi timbangan

63. Merasa selamat daripada kemurkaan Allah SWT

64. Putus asa dari rahmat Allah SWT

65. Meninggalkan solat berjemaah tanpa alasan yang kuat

66. Meninggalkan solat Jumaat tanpa alasan yang kuat

67. Merebut hak warisan yang bukan miliknya

68. Menipu

69. Mengintip rahsia dan membuka rahsia orang lain

70. Mencela Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat baginda.


Allah juga berfirman, maksudnya,
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Surah Ali Imran ayat 135)

Mengenai tindakan sesetengah di antara kita yang menganggap remeh dosa, Rasulullah bersabda maksudnya,

“Sesungguhnya seorang mukmin dalam melihat dosanya, bagaikan seorang yang berada di puncak gunung, yang selalu khuatir tergelincir jatuh. Adapun orang fasik dalam melihat dosanya, bagaikan seseorang yang dihinggapi lalat di hidungnya, maka dia usir begitu saja.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Orang yang bergembira dengan dosanya, Allah berfirman maksudnya,

“Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (Surah al-Baqarah ayat 206)

Mereka yang berasa aman daripada azab Allah, Allah berfirman maksudnya, 
“Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan perbicaraan rahsia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan perbicaraan rahsia untuk berbuat dosa, permusuhan dan derhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tiada menyeksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (Surah al-Mujadalah ayat 7)

Perbuatan maksiat secara terang-terangan, Rasulullah SAW bersabda, maksudnya, “Semua umatku akan diampunkan dosanya kecuali orang yang mujaharah (terang-terangan dalam berbuat dosa) dan yang termasuk mujaharah adalah seorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian hingga pagi hari Allah telah menutupi dosa terbabit, kemudian dia berkata:

Wahai fulan semalam saya berbuat ini dan berbuat itu. Padahal Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tetapi di pagi hari dia buka tutup Allah terbabit.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Yang melakukan perbuatan dosa itu adalah seorang yang menjadi tauladan. Rasulullah SAW bersabda, maksudnya, “Sesiapa yang memberi contoh di dalam Islam dengan contoh yang jelik, dia akan mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya selepas dia tanpa dikurangi dosa terbabit sedikitpun.”

Semoga Allah menjaga kita dari terlibat dengan dosa-dosa ini. Sama-samalah kita memohon keampunan Allah jika kita telah melakukan dosa-dosa ini, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Amiin.


JIka direnung, memang dosa tu berlegar-legar disekeliling kita waktu ini, terutama zaman moden, teknologi dan penuh viral ini.. Muhasabah diri, agar kita tak terjebak dengan dosa besar ini lagi... 

Untuk penjelasan kena la download e-book kitab al-Kabair yang pernah MF kongsikan >DI SINI<